animasi

Terima kasih telah berkunjung diblog kami semoga bermanfaat

Senin, 30 Juni 2014

LATIHAN MENULIS NOVEL

Senin pagi yang cerah. Cikampek masih ada sawah beserta tanaman padi yang hijau. Sesekali bergoyang – goyang tertiup angin pagi. Sinar matahari menerobos masuk ke dalam rumah lewat celah – celah genteng tanah dan dinding – dinding kosan yang masih terbuat dari anyaman bambu. Ternyata cikampek masih ada suasana desa seperti yang ada di wonogiri.
Tampak pemuda berumur dua puluh tahun menimba air untuk mandi. Timba demi timba air terkumpul dikolah penampungan. Kamar mandi yang masih sederhana dikelilingi anyaman bambu yang mampu menutupi setengah badan jika berdiri. Dari arah depan kosan pohin rambutan mengawasi setiap gerak dan diam pemuda itu.
“kang, baru pulang belanja?”tanya pemuda itu sambil meneruskan menimba.
“iya nich”jawab lelaki berumur tiga puluh lima tahun itu sambil menurunkan barang belanjaannya dari sepeda onthel yang sudah tampak usang. “belum berangkat Ram?”lanjutnya
“belum, ini masih mau mandi kang”
Ramli menutup pintu sumur dengan anyaman bambu dan handuk diatas anyaman bambu. Setelah selesai mandi Ramli masuk ke salah satu kamar kosan yang berderet itu. Dilihatnya kang Anwar sudah sibuk dengan rutinitasnya membuat bakso dagangan. Sebuah kosan yang sederhana untuk hidup disebuah kota besar. Dindingnya hanya terbuat dari anyaman bambu. Bila malam datang, angin malam bebas keluar masuk sesukanya. Antara ruang tidur dan dapur hanya dibatasi dengan triplek bekas. Tidak ada ruang tamu atau ruang lainnya. Bila ada tamu datang, pertama kali dilihat adalah dapur yang berada didepan dan tempat tidur bagian belakang.
Ramli mengenakan baju hem lengan panjang berwarna biru bergaris putih. Bajunya dimasukkan kedalam celana berwarna hitam dan diikat dengan sabuk berwarna hitam bekas dulu waktu masih sekolah. Tidak lupa sepatu pantofel menambah dirinya seperti orang kantoran elit dijakarta. Dia menghadap kecermin yang dipasang ditriplek pembatas. Disisir rambut ikal hitamnya itu.
“kang, berangkat dulu ya!”pamit Ramli pada kang Anwar teman satu kosannya itu.
“iya, hati – hati Ram!”balas kang Anwar
“assalamu’alaikum”
“Walaikum salam”
Ramli melaju dengan sepeda onthel berwarna biru yang dibelinya di salah satu ruko barang bekas di dekat stasiun cikampek. Dia mengayuh sepeda onthelnya menelusuri jalan desa dan gang – gang perumahan elit di cikampek. Sesekali dia berpapasan dengan penjual makanan keliling atau dipinggir jalan, seakan mereka tampak saling mengenal dan akrab. “berangkat pak guru!” sapa seorang ibu penjual jamu gendong padanya. “nggih bu!”jawab Ramli sembari senyum pada penjual jamu gendong yang ternyata berasal dari jatisrono, salah satu kecamatan di wonogiri.
Sekitar dua puluh menit, akhirnya dia tiba di sebuah bangunan sekolah berwarna hijau ditiangnya dan putih di dindingnya. Terlihat bangunan masjid yang besar berwarna putih berdiri disamping sekolah. Dihalaman parkir berjajar sepeda motor milik guru – guru dan wali murid yang mengantar putra putrinya. Di lapangan depan sekolah sesekali mobil avanza dan fortuner mengantar salah satu murid di sana. Ramli memarkir sepedanya diantara sepeda motor yang berjajar di tempat parkir. Tampaknya hanya dia yang membawa sepeda.
“pak, titip anak saya ya!”kata seorang wali murid yang berada di dalam mobil avanza berwarna hitam sambil melambaikan tangannya kearah Ramli yang masih berada di temapt parkir.
“iya pak!”jawab Ramli diiringi dengan senyumannya.
Sambil membunyikan klakson wali murid itu berlalu meninggalkan sekolah. Para siswa yang melihat kedatangan Ramli segera menyongsongnya. Mereka berhamburan ingin bersalaman dengan guru yang mereka anggap sebagai kakaknya.
“aduhhh, jangan keroyokan, gantian saja!”Ramli mencoba menegur saat para siswa saling berebut salaman.
“pak, kemaren saya ke bogor sama keluarga pak, asyik lho pak”pamer seorang siswa kelas dua padanya.
“pak, pak, nanti diajarin menggambar lagi ya pak”sahut siswa kelas tiga yang tak mau kalah dekat dengan teman – temannya yang lain.
“pak, jangan lupa lihat kami maen futsal nanti ya pak”
“pak, hari ini bahasa arab kan jadwalnya?”
“kemaren Aulia nangis pak”sahut siswa lainnya
Ramli kewalahan menjawab dan menanggapi mereka. Seakan para siswa saling berebut perhatiannya. Ramli tersenyum “iya, nanti kita teruskan di kelas ya”katanya lembut penuh kasih sayang. “bapak ke kantor dulu”lanjutnya. Ramli bergegas menuju ruang guru. Tapi sebelum masuk salah satu siwa berlari menghampirinya.
“pak saya mau minjam sepedanya boleh?”izin Bagas siswa kelas empat. “ohh, boleh. Hati – hati ya!”jawab Ramli sambil melangkah kembali masuk ke ruang guru.
oooOOOooo
Di wonogiri, desa Bangsri di mana orang tua Ramli tinggal. Ditemani ke dua adiknya Husna dan Syifa. Rumah yang kini tampak lapuk dan reyot di makan usia menjadi pengaman dari panas dan hujan. Tampak Ayahnya duduk diteras depan sambil mengasah arit. Ibunya memasak di dapur dibantu Husna, sedangkan Syifa baru selesai mandi.
“Masmu itu sudah sepuluh bulan merantau lho Na, sudah ada kabar lagi apa belum dari masmu?”tanya ibu Suminah sambil memasukkan santan kedalam sayur yang mulai mendidih diatas pawon.
“belum ada kabaar lagi Bu’e”jawab Husna singkat.
“masmu itu kerja apa tho? ngasih kabar masih pake surat surat, itu juga Cuma sekali. Masa’ hape saja gak kebeli?”
“katanya sih jadi guru SD Bu’e, maklum gajinya pas – pasan”
“dulu katanya keluaar dari pesantren mau kerja sambil kuliyah, sekarang sudah kuliyah apa belum tho?”
“belum Bu’e... tapi cita – cita mas Ramli kan jadi guru, meski belum kuliyah alhamdulillah sudah bisa jadi guru lho Bu’e”tenang Husna sambil menambahkan kayu bakar di pawon.
“Mbak Husna! Topi syifa dimana?”teriak syifa dari dalam rumah.
“di lemari dek, paling bawah!”jawab Husna.
Karena jarak rumah dengan sekolah Husna Cuma butuh lima menit jalan kaki jadi Husna bisa bantu – bantu orang tuanya beres – beres rumah dan memasak sebelum dia berangkat. Husna kini sudah kelas tiga SMP sedangkan Syifa masih kelas dua SD. Jarak sekolah Syifa lebih jauh dibanding Husna.
“dek, sarapan dulu!” perintah Husna pada adiknya. “ini sarapannya sudah matang”lanjutnya
Husna pun menghampiri ayahnya yang berada di teras depan dan mengajak beliau untuk sarapan bersama. “pak, monggo sarapan!”ajak Husna.
Diatas meja kayu yang sudah tidak bisa dihitung usianya sudah terhidang nasi beras campur tiwul yang masih tampak mengepul asapnya. Ditambah aroma ikan asin dan sayur terong campur tahu. Tak lupa sambal menemani sarapan mereka. Pagi itu.
oooOOOooo
Tampak dari jalan, ada plang menghadap kearah pengguna jalan bertuliskan SD IT Bina Insani. Yaitu dimana Ramli mengajar. Tulisannya tampak besar berwarna hijau dan dibawahnya bertuliskan alamat sekolahkan. Begitu mencolok. Begitu jelas.
Di halaman sekolah ada siswa yang menangis dan di kerumuni siswa – siswa lainnya. Salah satu diantara mereka berlari menuju ruang guru. “pak Ramli, itu pak, si Evan nangis”lapor Fauzi siswa kelas lima.
“dimana?”tanya Ramli. Semua guru yang sedari tadi duduk beeranjak berdiri.
“itu pak, di halaman!”jawab fauzi
Ramli bergegas menuju halaman, sedangkan guru – guru yang lain keluar ruangan dan berdiri di teras kantor.
“ada apa bagas?”tanya Ramli pada bagas siswa yang tadi meminjam sepedanya.
“ini pak, si Aldo maksa minjam sepeda bapak. Saya suruh ijin bapak malah tetap maksa”jelas Bagas
“yang lain bubar, sebentar lagi bel masuk berbunyi!” perintah Ramli pada murid – murid yang lain. “tapi kok si Aldo bisa nangis?”tanyanya lagi pada Bagas.
“saya cubit pak”bagas mengaku
“Aldo rumahnya kan dekat dengan sekolah, besok Aldo bawa sepeda sendiri,ijin sama orang tua ya! Dan Bagas tidak boleh kasar sama adik kelas, kita disini adalah keluarga”Ramli mencoba memberi nasehat.
“iya pak”jawab Aldo sesenggukan.
“ya sudah, kalian bersalaman dan saling minta maaf dan besok jangan diulangi lagi”
“iya pak”jawab mereka berdua hambir bersamaan. Tiba – tiba bel masuk berbunyi. “ya sudah sekarang kalian ikut berbaris dengan teman – teman yang lainnya”perintah Ramli halus.
Semua siswa berhamburan menuju halaman sekolah untuk melaksanakan rutinitas di hari senin meninggalkan sejenak aktifitas. Mereka siap melaksanakan upacara pagi.
oooOOOooo
Sore itu di Pondok Pesantren Sunan Gunung Jati Kismantoro Wonogiri terlihat para santri berhamburan keluar dari masjid setelah melaksanakan sholat asar berjamaah. Masjid yang terletak di depan ndalem kyai yang berdiri megah menjadi tanda syiar islam, yang selalu menjadi partner para santri. Angin sore yang dingin ditambah aroma rumput hijau masih menjadi teman untuk melengkapi sore –sore disekitar pesantren.Pesantren yang dulu dan sekarang menjadi bagian dari perjalanan Ramli dan teman – temannya. Teman sekelas, teman pengabdian dan teman – teman satu nasib dan perjuangan.
“Tadz, ...”panggil santriwati kelas dua madrasah Tsanawiyah pada Anam yang sedang berjalan menuju kelas.
“iya, ada apa Nurul?”tanya Anam yang tak lain adalah teman Ramli yang masih mengabdi di pesantren.
“bagaimana kabar tadz Ramli?”tanya Nurul penuh rasa ingin tahu. Sebelum Anam menjawab Nurul sudah bertanya lagi. “mang tadz Ramli dimana sih tadz?”lanjutnya. “kog beliau jarang ke sini”Nurul memberondong Anam dengan pertanyaannya.
“walahhh, antum ini sudah kaya wartawan saja”jawab Anam. “tanyanya satu – satu donk”lanjut Anam.
“hehe, habis ana penasaran tadz dan kangen diajar oleh beliau”jawab Nurul sambil tersenyum.
“ana juga belum tahu kabar beliau, beliau belum ngasih kabar. Kemungkinan beliau belum punya hape”jelas Anam pada santrinya itu.
“bagaimana tho ustadz ini”celoteh nurul. “ya sudah, afwan ya tadz sudah mengganggu”lanjut Nurul. “assalamu’alaikum” Nurul mengakhiri percakapannya dan kembali melangkah menuju asrama putri.
Anam menuju kamar di mana teman – temannya sudah menunggunya untuk makan sore. Anam membuka pintu kamar, dilihatnya kaligrafi yang terpasang di dinding hasil karya Ramli saat di pesantren.
“hal ‘aroftum aina Ramli al’an?”tanya Anam pada teman – temannya.
“ma ‘aroftu” jawab Ahmad yang berbadan gemuk diantara mereka.
“limadza kang?”tanya Rosyid
“tadi ada santri yang menanyakan dia, tapi ana sendiri tidak tahu dimana dia sekarang, kerja atau kuliyah ana tidak tahu”jelas Anam pada teman – temannya.
“ya sudah, kita makan dulu. Sudah laper nih” potong Nurdin ingin segera menyantap makan sore.
“sekalian ente yang memimpin berdoa kang”perintah Anam
“Allahumma bariklana fiima rozaktana waqina ‘adza bannar”ucap Nurdin memimpin doa dan diamini oleh teman – temannya “aaamiinn”

 (BERSAMBUNG)

Jumat, 20 Juni 2014

LIPSTIK DAN GARAM,

Pagi itu seorang ibu memasak didapur. Tiba - tiba anak perempuannya hadir membantunya. "nak ambilkan garam!"perintah sang ibu. Kemudian sang ibu melihat anaknya "MasyaAllah nduk... mbok ya jangan pake lipstik kaya gitu kalau mau sekolah!"tegur ibunya saat melihat bibir anaknya penuh lipstik yang agak terang. Sang ibu menghampiri anaknya "nduk, jika kamu disuruh memilih, kamu milih jadi lipstik apa garam?"tanya sang ibu pelan dan penuh kasih sayang. Sang anak menatap ibunya dan terdiam tanpa memberi jawaban. "jika ibu yang disuruh milih ibu akan memilih jadi garam"lanjut sang ibu. "alasannya apa bu?"tanya anak perempuannya penasaran. "apa kamu tahu masakan apa yang tidak membutuhkan garam?meski garam selalu dibutuhkan oleh setiap masakan tapi garam tak merasa sombong dan menampakkan dirinya melainkan ikut membaur dengan bumbu - bumbu yang lain. Meski begitu jika garam tidak ada akan selalu terasa keberadaannya. Beda dengan lipstik dia selalu tampil mencolok tapi tidak memberi rasa apa - apa. Anakku jadi seperti garam, yang selalu keberadaannya diakui orang dan tidak memamerkan fisiknya ada, tapi bisa dirasakan oleh semua orang. Jangan menjadi lipstik yang ingin keberadaanya diakui dengan memberi warna yang mencolok tapi tidak memberi rasa apa - apa pada pemakainya maupun orang lain"

Minggu, 01 Juni 2014

PISAU DAPUR DAN KERIS, PILIH MANA?

PISAU DAPUR VS KERIS
Anda mau menjadi pisau dapur atau keris?tanya seorang ustadz kepada jama’ah dalam pengajian isro’ miroj Nabi Muhammad SAW minggu yang lalu. Sebelum saya lanjutkan silahkan anda tanya pada diri anda, ingin menjadi pisau dapur atau keris?
Saya terdiam dan berfikir sembari menunggu sang ustadz melanjutkan penjelasannya.” Bapak ibu saudara saudari yang dimulyakan Alloh, hendaknya kita menjadi sebuah pisau dapur dari pada sebuah keris.  Kog bisa begitu?pisau dapur bertemu dengan cabe, ok, diiris itu cabe. Pisau dapur bertemu kacang, ok, diiris itu kacang. Bertemu bawang, diiris itu bawang, bertemu semua jenis yang ada di dapur ddiiris oleh pisau itu dan jika ada musuh menyerang bisa digunakan untuk senjata. Dan jangan menjadi sebuah keris, kenapa?keris selalu ingin dikeramatkan, dipuja dan disakralkan, hanya orang – orang tertentu yang menggunakan, sekali berguna hanya akan menusuk melukai orang dan membunuh orang lain”.lanjut ustadz itu
Dari sini saya mulai paham apa yang dimaksud oleh beliau. Apalagi beliau mengutip sebuah hadist “خير الناس أنفعهم للناس
“Sebaik – baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain”(HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni)
Pisau dapur seperti orang yang bermanfaat untuk orang lain yang selalu membantu dan oke bertemu siapa saja, tidak ingin dihormati dan minta dihargai tapi dia selalu bermanfaat untuk siapa saja yang bertemu dengannya. Beda dengan keris ibarat manusia yang haus akan kehormatan tapi dia tidak bermanfaat, sekali bermanfaat tapi untuk melukai orang lain.
Jadilah pribadi yang bermanfaat untuk orang lain
Apa arti dari sebuah kesuksesan jika tidak bermanfaat untuk orang lain. Jadilah pribadi pisau dapur. Lalu apa yang kita cari di kehidupan ini?apakah menjadi orang kaya, atau menjadi pejabat atau menjadi orang yang berilmu. Itu semua adalah pilihan kita, lantas setelah kita capai itu semua apa tujuan kita, tidak lain adalah bermanfaat untuk orang lain.
Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menjadi pribadi yang bermanfaat untuk orang lain.
·         Berbagi tenaga/keahlian dengan orang lain
·         Berbagi ilmu dengan orang lain
·         Berbagi harta/materi dengan orang lain
·         Berbagi nasehat dengan orang lain
·         Berbagi waktu/perhatian dengan orang lain
·         Berbagi ide
·         Dan lain – lain
Masihkah anda ingat kisah tentang uang 1000?jadi ceritanya ada uang 1000 dan 100.000 selepas dicetak di Peruri dan diedarkan oleh Bank Indonesia, mereka mengalami perjalanan dan petualangan yang berbeda. Uang 1000 begitu dikeluarkan langsung beredar di kalangan bawah, dipasar, di pegang tukang becak, tukang ojek, tukang parkir bahkan pengemis. Sedangkan uang 100.000 masuk ke mall mall, dipegang oleh orang – orang cantik dan ganteng.
Alkisah mereka bertemu didompet seorang pemuda. Si uang 100.000 bertanya kepada uang 1000
“wahai uang 1000, kok badanmu buluk amat, bau, lecek. Kenapa bisa begitu?”tanyanya dengan nada pongah, karena merasa dirinya bagus, kekar dan wangi
“wahai uang 100.000. wajarlah badanku lecek begini, aku selalu dipegang tukang ojek, tukang sayur, tukang ikan bahkan pengemis, aku juga sering berpindah – pindahmakanya bau dan lecek. Tapi kau, wahai uang 100.000. Badanmu kekar, aromamu wangi. Kau tentulah sangat terpelihara?”
“pastinya dong..!aku sangat jarang keluar dompet, orang – orang sangat menyayangiku. Kalau pun keluar, aku keluar didaerah yang bersih dan wangi. Seperti mall dan toko mas”uang 100.000 tambah pongah.
Si uang 1000 terdiam sejenak.
“kau sangat keren, tapi...... pernahkah kau mampir di rumah yatim piatu?”tanya uang 1000
Si uang 100.000 menggeleng
“ngga,,,ngga pernah”
“kalau tempat ibadah?”
“ngga pernah juga”
“kalau di tangan seorang nenek – nenek yang menerima dengan rasa syukur yang sangat saat mendapatkanmu?”
Si uang 100.000 menggeleng lemah
“aku ngga pernah mengalami senua itu. Pemilikku biasanya sangat menjagaku”
Si uang 100.000 tercenung. Nyatalah bahwa ia sangat tak pantas pongah. Meskipun lecek dan bau, ternyata uang 1000 mempunyai manfaat yang lebih banyak dibandingkan dirinya. Tentulah di matalah Allah yang lebih bermanfaat dan bertaqwa yang lebih tinggi kedudukannya dibandingkan dirinya yang bagus dan keren tapi kurang bermanfaat.

Seperti halnya pisau dapur dan keris. Mana yang lebih bermanfaat dianataranya. Jelas sekali sebagai manusia kita ingin menjadi manusia yang bermanfaat. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk saya pribadi dan untuk anda.