Senin pagi yang cerah. Cikampek
masih ada sawah beserta tanaman padi yang hijau. Sesekali bergoyang – goyang
tertiup angin pagi. Sinar matahari menerobos masuk ke dalam rumah lewat celah –
celah genteng tanah dan dinding – dinding kosan yang masih terbuat dari anyaman
bambu. Ternyata cikampek masih ada suasana desa seperti yang ada di wonogiri.
Tampak pemuda berumur dua puluh
tahun menimba air untuk mandi. Timba demi timba air terkumpul dikolah
penampungan. Kamar mandi yang masih sederhana dikelilingi anyaman bambu yang
mampu menutupi setengah badan jika berdiri. Dari arah depan kosan pohin
rambutan mengawasi setiap gerak dan diam pemuda itu.
“kang, baru pulang belanja?”tanya
pemuda itu sambil meneruskan menimba.
“iya nich”jawab lelaki berumur
tiga puluh lima tahun itu sambil menurunkan barang belanjaannya dari sepeda onthel
yang sudah tampak usang. “belum berangkat Ram?”lanjutnya
“belum, ini masih mau mandi kang”
Ramli menutup pintu sumur dengan
anyaman bambu dan handuk diatas anyaman bambu. Setelah selesai mandi Ramli
masuk ke salah satu kamar kosan yang berderet itu. Dilihatnya kang Anwar sudah
sibuk dengan rutinitasnya membuat bakso dagangan. Sebuah kosan yang sederhana
untuk hidup disebuah kota besar. Dindingnya hanya terbuat dari anyaman bambu. Bila
malam datang, angin malam bebas keluar masuk sesukanya. Antara ruang tidur dan
dapur hanya dibatasi dengan triplek bekas. Tidak ada ruang tamu atau ruang
lainnya. Bila ada tamu datang, pertama kali dilihat adalah dapur yang berada
didepan dan tempat tidur bagian belakang.
Ramli mengenakan baju hem lengan
panjang berwarna biru bergaris putih. Bajunya dimasukkan kedalam celana
berwarna hitam dan diikat dengan sabuk berwarna hitam bekas dulu waktu masih
sekolah. Tidak lupa sepatu pantofel menambah dirinya seperti orang kantoran
elit dijakarta. Dia menghadap kecermin yang dipasang ditriplek pembatas. Disisir
rambut ikal hitamnya itu.
“kang, berangkat dulu ya!”pamit
Ramli pada kang Anwar teman satu kosannya itu.
“iya, hati – hati Ram!”balas kang
Anwar
“assalamu’alaikum”
“Walaikum salam”
Ramli melaju dengan sepeda onthel
berwarna biru yang dibelinya di salah satu ruko barang bekas di dekat stasiun
cikampek. Dia mengayuh sepeda onthelnya menelusuri jalan desa dan gang – gang perumahan
elit di cikampek. Sesekali dia berpapasan dengan penjual makanan keliling atau
dipinggir jalan, seakan mereka tampak saling mengenal dan akrab. “berangkat pak
guru!” sapa seorang ibu penjual jamu gendong padanya. “nggih bu!”jawab Ramli
sembari senyum pada penjual jamu gendong yang ternyata berasal dari jatisrono,
salah satu kecamatan di wonogiri.
Sekitar dua puluh menit, akhirnya
dia tiba di sebuah bangunan sekolah berwarna hijau ditiangnya dan putih di
dindingnya. Terlihat bangunan masjid yang besar berwarna putih berdiri
disamping sekolah. Dihalaman parkir berjajar sepeda motor milik guru – guru dan
wali murid yang mengantar putra putrinya. Di lapangan depan sekolah sesekali
mobil avanza dan fortuner mengantar salah satu murid di sana. Ramli memarkir
sepedanya diantara sepeda motor yang berjajar di tempat parkir. Tampaknya hanya
dia yang membawa sepeda.
“pak, titip anak saya ya!”kata
seorang wali murid yang berada di dalam mobil avanza berwarna hitam sambil
melambaikan tangannya kearah Ramli yang masih berada di temapt parkir.
“iya pak!”jawab Ramli diiringi
dengan senyumannya.
Sambil membunyikan klakson wali
murid itu berlalu meninggalkan sekolah. Para siswa yang melihat kedatangan
Ramli segera menyongsongnya. Mereka berhamburan ingin bersalaman dengan guru
yang mereka anggap sebagai kakaknya.
“aduhhh, jangan keroyokan,
gantian saja!”Ramli mencoba menegur saat para siswa saling berebut salaman.
“pak, kemaren saya ke bogor sama
keluarga pak, asyik lho pak”pamer seorang siswa kelas dua padanya.
“pak, pak, nanti diajarin
menggambar lagi ya pak”sahut siswa kelas tiga yang tak mau kalah dekat dengan
teman – temannya yang lain.
“pak, jangan lupa lihat kami maen
futsal nanti ya pak”
“pak, hari ini bahasa arab kan
jadwalnya?”
“kemaren Aulia nangis pak”sahut
siswa lainnya
Ramli kewalahan menjawab dan
menanggapi mereka. Seakan para siswa saling berebut perhatiannya. Ramli tersenyum
“iya, nanti kita teruskan di kelas ya”katanya lembut penuh kasih sayang. “bapak
ke kantor dulu”lanjutnya. Ramli bergegas menuju ruang guru. Tapi sebelum masuk
salah satu siwa berlari menghampirinya.
“pak saya mau minjam sepedanya
boleh?”izin Bagas siswa kelas empat. “ohh, boleh. Hati – hati ya!”jawab Ramli
sambil melangkah kembali masuk ke ruang guru.
oooOOOooo
Di wonogiri, desa Bangsri di mana
orang tua Ramli tinggal. Ditemani ke dua adiknya Husna dan Syifa. Rumah yang
kini tampak lapuk dan reyot di makan usia menjadi pengaman dari panas dan hujan.
Tampak Ayahnya duduk diteras depan sambil mengasah arit. Ibunya memasak di
dapur dibantu Husna, sedangkan Syifa baru selesai mandi.
“Masmu itu sudah sepuluh bulan
merantau lho Na, sudah ada kabar lagi apa belum dari masmu?”tanya ibu Suminah
sambil memasukkan santan kedalam sayur yang mulai mendidih diatas pawon.
“belum ada kabaar lagi Bu’e”jawab
Husna singkat.
“masmu itu kerja apa tho? ngasih
kabar masih pake surat surat, itu juga Cuma sekali. Masa’ hape saja gak kebeli?”
“katanya sih jadi guru SD Bu’e,
maklum gajinya pas – pasan”
“dulu katanya keluaar dari
pesantren mau kerja sambil kuliyah, sekarang sudah kuliyah apa belum tho?”
“belum Bu’e... tapi cita – cita mas
Ramli kan jadi guru, meski belum kuliyah alhamdulillah sudah bisa jadi guru lho
Bu’e”tenang Husna sambil menambahkan kayu bakar di pawon.
“Mbak Husna! Topi syifa dimana?”teriak
syifa dari dalam rumah.
“di lemari dek, paling bawah!”jawab
Husna.
Karena jarak rumah dengan sekolah
Husna Cuma butuh lima menit jalan kaki jadi Husna bisa bantu – bantu orang
tuanya beres – beres rumah dan memasak sebelum dia berangkat. Husna kini sudah
kelas tiga SMP sedangkan Syifa masih kelas dua SD. Jarak sekolah Syifa lebih
jauh dibanding Husna.
“dek, sarapan dulu!” perintah
Husna pada adiknya. “ini sarapannya sudah matang”lanjutnya
Husna pun menghampiri ayahnya
yang berada di teras depan dan mengajak beliau untuk sarapan bersama. “pak,
monggo sarapan!”ajak Husna.
Diatas meja kayu yang sudah tidak
bisa dihitung usianya sudah terhidang nasi beras campur tiwul yang masih tampak
mengepul asapnya. Ditambah aroma ikan asin dan sayur terong campur tahu. Tak lupa
sambal menemani sarapan mereka. Pagi itu.
oooOOOooo
Tampak dari jalan, ada plang
menghadap kearah pengguna jalan bertuliskan SD IT Bina Insani. Yaitu dimana
Ramli mengajar. Tulisannya tampak besar berwarna hijau dan dibawahnya
bertuliskan alamat sekolahkan. Begitu mencolok. Begitu jelas.
Di halaman sekolah ada siswa yang
menangis dan di kerumuni siswa – siswa lainnya. Salah satu diantara mereka
berlari menuju ruang guru. “pak Ramli, itu pak, si Evan nangis”lapor Fauzi siswa
kelas lima.
“dimana?”tanya Ramli. Semua guru
yang sedari tadi duduk beeranjak berdiri.
“itu pak, di halaman!”jawab fauzi
Ramli bergegas menuju halaman, sedangkan
guru – guru yang lain keluar ruangan dan berdiri di teras kantor.
“ada apa bagas?”tanya Ramli pada
bagas siswa yang tadi meminjam sepedanya.
“ini pak, si Aldo maksa minjam
sepeda bapak. Saya suruh ijin bapak malah tetap maksa”jelas Bagas
“yang lain bubar, sebentar lagi
bel masuk berbunyi!” perintah Ramli pada murid – murid yang lain. “tapi kok si
Aldo bisa nangis?”tanyanya lagi pada Bagas.
“saya cubit pak”bagas mengaku
“Aldo rumahnya kan dekat dengan
sekolah, besok Aldo bawa sepeda sendiri,ijin sama orang tua ya! Dan Bagas tidak
boleh kasar sama adik kelas, kita disini adalah keluarga”Ramli mencoba memberi
nasehat.
“iya pak”jawab Aldo sesenggukan.
“ya sudah, kalian bersalaman dan
saling minta maaf dan besok jangan diulangi lagi”
“iya pak”jawab mereka berdua
hambir bersamaan. Tiba – tiba bel masuk berbunyi. “ya sudah sekarang kalian
ikut berbaris dengan teman – teman yang lainnya”perintah Ramli halus.
Semua siswa berhamburan menuju
halaman sekolah untuk melaksanakan rutinitas di hari senin meninggalkan sejenak
aktifitas. Mereka siap melaksanakan upacara pagi.
oooOOOooo
Sore itu di Pondok Pesantren
Sunan Gunung Jati Kismantoro Wonogiri terlihat para santri berhamburan keluar
dari masjid setelah melaksanakan sholat asar berjamaah. Masjid yang terletak di
depan ndalem kyai yang berdiri megah menjadi tanda syiar islam, yang selalu
menjadi partner para santri. Angin sore yang dingin ditambah aroma rumput hijau
masih menjadi teman untuk melengkapi sore –sore disekitar pesantren.Pesantren yang
dulu dan sekarang menjadi bagian dari perjalanan Ramli dan teman – temannya. Teman
sekelas, teman pengabdian dan teman – teman satu nasib dan perjuangan.
“Tadz, ...”panggil santriwati
kelas dua madrasah Tsanawiyah pada Anam yang sedang berjalan menuju kelas.
“iya, ada apa Nurul?”tanya Anam
yang tak lain adalah teman Ramli yang masih mengabdi di pesantren.
“bagaimana kabar tadz Ramli?”tanya
Nurul penuh rasa ingin tahu. Sebelum Anam menjawab Nurul sudah bertanya lagi. “mang
tadz Ramli dimana sih tadz?”lanjutnya. “kog beliau jarang ke sini”Nurul
memberondong Anam dengan pertanyaannya.
“walahhh, antum ini sudah kaya
wartawan saja”jawab Anam. “tanyanya satu – satu donk”lanjut Anam.
“hehe, habis ana penasaran tadz
dan kangen diajar oleh beliau”jawab Nurul sambil tersenyum.
“ana juga belum tahu kabar
beliau, beliau belum ngasih kabar. Kemungkinan beliau belum punya hape”jelas
Anam pada santrinya itu.
“bagaimana tho ustadz ini”celoteh
nurul. “ya sudah, afwan ya tadz sudah mengganggu”lanjut Nurul. “assalamu’alaikum”
Nurul mengakhiri percakapannya dan kembali melangkah menuju asrama putri.
Anam menuju kamar di mana teman –
temannya sudah menunggunya untuk makan sore. Anam membuka pintu kamar,
dilihatnya kaligrafi yang terpasang di dinding hasil karya Ramli saat di
pesantren.
“hal ‘aroftum aina Ramli al’an?”tanya
Anam pada teman – temannya.
“ma ‘aroftu” jawab Ahmad yang berbadan
gemuk diantara mereka.
“limadza kang?”tanya Rosyid
“tadi ada santri yang menanyakan
dia, tapi ana sendiri tidak tahu dimana dia sekarang, kerja atau kuliyah ana
tidak tahu”jelas Anam pada teman – temannya.
“ya sudah, kita makan dulu. Sudah
laper nih” potong Nurdin ingin segera menyantap makan sore.
“sekalian ente yang memimpin
berdoa kang”perintah Anam
“Allahumma bariklana fiima
rozaktana waqina ‘adza bannar”ucap Nurdin memimpin doa dan diamini oleh teman –
temannya “aaamiinn”










