animasi

Terima kasih telah berkunjung diblog kami semoga bermanfaat

Sabtu, 17 Mei 2014

9 DARI 10

“9 dari 10 pintu rezeki itu berasal dari perniagaan/perdagangan”(HR. Tirmidzi)
19 tahun yang lalu seorang lulusan Sekolah Dasar merantau ke jakarta. Dia bersama istrinya yang sama – sama lulusan sekolah dasar. Di perantauan sang suami berjualan bakso dan sang istri berjualan jamu gendong, keliling dari perumahan satu ke perumahan lainnya. Hidup pas – pasan dan tinggal dikontrakan yang kecil cukup untuk tidur mereka berdua. Setiap hari mereka harus bangun pagi untuk mempersiapkan jualannya. Sang istri berangkat jam tujuh pagi dan pulang sekitar jam sebelas siang. Sedangkan sang suami mulai mendorong gerobak baksonya mulai jam dua siang sampai jam sepuluh malam. Itu berlangsung bertahun – tahun lamanya. Dan akhirnya sekarang mereka punya dua anak perempuan dan tinggal dirumah sendiri. Bahkan mereka sudah punya kontrakan sendiri empat kamar. Saya pernah tinggal bersama mereka. Bahkan saya pernah ikut jualan. Satu bukti kebenaran dari hadist diatas bahwa 9 dari 10 pintu rezeki itu berasal dari perdagangan. Suami istri itu adalah kakakku dan kakak iparku.
Waktu itu saya masih ngekos di daerah sunter. Setiap hari makan ke warteg dan nasi goreng yang disamping kosan. Semakin lama saya mulai kenal dekat dengan bapak penjua lnasi goreng itu. Saat dia membersihkan selokan saya mencoba menghampirinya dan mengajaknya mengobrol. Setelah mendengar bapak itu berbicara, saya merasa kagum dengan bapak itu. Ternyata bapak itu punya tiga orang anak. Satu laki – laki dan dua perempuan. Usut punya usut ketiga anak bapak itu semuanya kuliyah. Yang laki – laki sarjana teknik dan anak kedua anak perempuannya masih kuliyah bidan. Bahkan bukan itu saja yang membuat saya kagum. Waktu ada mobil toyota avanza hitam diparkir didepan kosan, saya tak pernah mengira mobil itu milik bapak penjual nasi goreng itu. “luar biasa”pikir saya. Seorang penjual nasi goreng bisa mengkuliyahkan ketiga anaknya dan punya mobil pula. Sedangkan saya yang karyawan pabrik swasta jangankan mobil, motor pun tak punya. Ini membuktikan bahwa perdagangan adalah pintu rezeki.
Banyak orang yanng ketika ditanya “mas kapan jadi pengusaha atau pedagang?” jawabnya nanti mas kalau sudah punya modal. Saya pernah membaca bukunya yusuf mansur yang terkenal dengan ustadz sedekah, dibukunya yang berjudul semua bisa jadi pengusaha, disana ditulis modal pertama seorang pengusaha adalah doa. Allah memberikan modal yang sama antara si kaya dan si miskin untuk memulai jadi pengusaha atau pedagang. Yaitu doa. Jadi konsep jadi pengusaha di mulai dari Allah dulu, Allah lagi, Allah terus.
Lantas setelah doa apa?ya sudah tentu usaha. Saya punya teman yang satu angkatan dengan saya waktu di madrasah aliyah. Setelah lulus dari madrasah tahun 2009, dia merantau ke jakarta. Dia ikut orang lain menjualkan buku di daerah blok M square. Entah berapa gajinya saat itu. Mungkin satu juta lebih. Setelah satu tahun ikut berjualan dikios orang, dia mencoba sewa kios dan berjualan buku sendiri. Dengan modal yang didapat dari gaji waktu jadi penjaga kios orang akhirnya dia bisa berjualan di kios sendiri. Saya masih ingat waktu awal buka, buku yang dijual masih sedikit. Itu pun cuma buku resep masakan dan tentang aplikasi komputer. Bulan berganti bulan,  dan di tahun 2014 ini dia sudah bisa menyewa dua kios. Dan tentunya buku – buku yang dijual semakin banyak dan beraneka ragam dari buku mahasiswa, umum, religi dan lainnya. Selain itu dia juga sudah bisa membeli motor satria. Sedangkan saya yang karyawan pabrik masih jalan kaki.
Dari ketiga kisah nyata diatas, lantas kita harus bertanya pada diri kita “kapan saya bisa jadi pengusaha?”semoga kita semua menjadi pengusaha muslim yang sukses di dunia dan akhirat. Pembaca mungkin bertanya”mas kapan jadi pengusaha?”wahh ini PR saya hehee... tapi saya sudah mulai merancang dan menyunsun konsepnya. Doakan semoga bisa jadi pengusaha. Dan teman – teman yang membaca ini juga jadi pengusaha. Aamiin.

Kisah diatas sekaligus bukti dari ucapan kanjeng nabi Muhammad SAW karena nabi juga mencontohkan kita sebagai seorang pedagang. Dan kita bisa lihat sahabat – sahabat nabi mayoritas mereka adalah pedagang dan pengusaha. Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar