Aku tak tahu, bagaimana harus
menuturkan kisah ini pada Anda. Kisah yang pernah ku alami sendiribebrapa tahun
yang lalu sehingga mengubah total perjalanan hidupku. Sebenarnya aku tak ingin
menceritakannya, tapi demi tanggung jawab dihadapan Allah, demi peringatan bagi
para pemuda yang mendurhakai Allahdan demi pelajaran bagi gadis yang mengejar
bayangan semu, yang disebut cinta, maka ku ungkapkan kisah ini.
Ketika itu, kami tiga sekawan. Yang
mengumpulkan kami adalah kesamaan nafsu dan kesia – siaan. Oh tidak, kami
berempat, satunya lagi adalah setan. Kami pergi berburu gadis – gadis. Mereka kami
rayu dengan kata kata manis, hingga mereka takluk, lalu kami bawa ke sebuah
taman yang jauh dan terpencil. Di sana, kami berubah menjadi serigala –
serigala yang tak menaruh belas kasihan mendengar rintihan mohonan mereka, hati
dan perasaan kami sudah mati.
Begitulah hari – hari kami di
taman, di tenda, atau dalam mobil yang diparkir di pinggir pantai. Sampai suatu
hari yang tak mungkin pernah aku lupakan. Seperti biasa kami pergi ke taman. Seperti
biasa pula, masing – masing kami menyantap satu mangsa gadis, ditemani minuman
laknat. Satu hal yang kami lupa pada saat itu adalah makanan. Segera salah
seorang dari kami bergegas membeli makanan dengan mengendarai mobilnya. Saat ia
berangkat, jam menunjukkan pukul jam enam sore. Bebrapa jam berlalu, tapi teman
kami itu belum kembali. Pukul sepuluh malam, hatiku mulai tak enak dan gusar. Maka
aku segera membawa mobil untuk mencarinya. Di tengah perjalanan, di kejauhan
aku melihat jilatan api. Aku mencoba mendekat.
Aku hampir tak percaya dengan
yang kulihat. Ternyata api itu bersumber dari mobil temanku yang terbalik dan
terbakar. Aku panik seperti orang gila. Aku segera mengeluarkan tubuh temanku
dari mobilnya yang masih menyala. Aku ngeri tatkala melihat separuh tubuhnya
masak terpanggang api. Ku bopong tubuhnya lalu kuletakkan ditanah.
Sejenak kemudian, dia berusaha
membuka kedua matanya, berbisik lirih “ Api... Apiii....”
Aku memutuskan untuk segera
membawanya ke rumah sakit dengan mobilku. Tetapi dengan suara campur tangis, ia
mencegah :”tak ada gunanya...aku takkan sampai..”
Air mataku tumpah, aku harus
menyaksikan temanku meninggal dihadapanku. Di tengah kepanikanku, tiba tiba ia
berteriak lemah:”Apa yang mesti kukatakan padaNya?apa yang mesti kukatakan
padaNya?”
Aku memandangnya penuh keheranan.
:” Siapa?”tanyaku. dengan suara yang seakan berasal dari sumur yang amat dalam,
dia menjawab “Allah”
Aku merinding ketakutan. Tubuh dan
perasaanku terguncang keras. Tiba – tiba temanku itu menjerit, gemanya menyelusup
ke setiap relung malam yang gelap gulita, lau kudengar tarikan nafasnya yang
terakhir. Innaalillahi wainna ilaihi roji’un. Setelah itu hari hari berlalu
seperti sediakala, tetapi bayangan temanku yang meninggal, jerit kesakitannya,
api yang membakarnyadan lolongannya “Apa yang mesti kukatakan padaNya?” seakan
terus membuntuti setiap gerak dan diamku.
Pada diriku aku bertanya:”Aku...
apa yang harus aku katakan padaNya?”Air mataku menetes, lalu sebuah getaran
aneh menjalari jiwaku. Saat puncak perenungan itulah, sayup sayup aku mendengar
adzan subuh menggema. Aku merasa bahwa adzan itu hanya ditujukan padaku saja,
mengajakku menyingkap fase kehidupanku yang kelam, mengajakku pada jalan cahaya
dan hidayah. Aku segera bangkit, mandi dan wudhu, menyucikan tubuhku dari noda –
noda kehinaan yang menenggelamkanku selam bertahun tahun.
Sejak saat itu aku tak pernah
lagi meninggalkan sholat. Aku memuji Allah, yang tiada yang layak dipuji selain
Dia. Aku telah menjadi manusia lain. Maha suci Allah yang mengubah berbagai
keadaan. Dengan seizin Allah, aku telah menunaikan umrah. insyaAllah aku akan
melaksanakan haji dalam waktu dekat, siapa yang tahu?umur ada ditangan Allah.
Diambil dari buku : ukhti, apa
yang menghalangimu untuk berjilbab?
Di kutip lagi di buku : jendela
hati karya satria nova
Dan saya ketik kembali diblog
saya... semoga bermanfaat. Hidayah bisa turun meski Cuma lewat cerita. Pada
intinya perubahan itu sumbernya pada jiwa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar