Pandanglah orang lain pada sisi baiknya, dan pandanglah dirimu dari sisi buruknya
16 mei 2014
“jalannya masih jauh ya mas?”tanya naim pada kakaknya saat
melakukan perjalanan camping ke bukit diutara desanya.
“masih, kalau sudah lelah kita istirahat sebentar. Dibawah
pohon itu”tunjuk rangga sambil berjalan menghampiri pohon yang besar dan
rimbun.
“oke kita istrihat disini”lanjutnya
Angin berhembus sejuk. Lebih dingin.
Sesekali daun – daun berguguran tertiup angin. Jatuh
terjerembak disekitar tempat mereka berteduh. Terdengar kicauan burung – burung
yang sedang bernyanyi dengan riangnya. Awan mulai bergerak kearah barat dan
menyatu menjadi awan hitam.
“sepertinya hari ini akan turun hujan”kata riska mulai
percakapan
“sebaiknya kita lanjutkan perjalanan dan mencari tempat
berteduh dipemukiman warga”usul randi
“oke aku setuju”jawab naim sambil berdiri “ ayo kita
lanjutkan perjalanan ini”lanjutnya
“saya sih yes, bagaimana dengan rangga?”sambung ramli sambil
menirukan gayanya juri indonesia idol.
“sebaiknya kita pulang saja ya mas”pinta naim merasa
ketakutan.
“perjalanan kita baru setengahnya, jika kalian merasa tak
kuat sebaiknya kita kembali saja. Jika kalian masih sanggup mari kita lanjutkan
camping kita ini. Bagaimana naim masih mau lanjut?”tengok rangga kearah naim.
“iya mas”jawabnya lirih
Mereka berlima melanjutkan perjalanannya. Sesekali mereka
bercanda dan saling menggoda. Angin dingin bersama butiran air mengejar
perjalanan mereka. Pohon – pohon disekelilng mereka mulai menari dengan semarak
tertiup angin.
Rangga berjalan didepan, disusul naim dan riska
dibelakangnya kemudian ramli dan randi berjalan paling belakang. Mereka berlima ingin camping di bukit yang
terletak di utara desanya. Desa sukamanah. Jarak bukit dan desa sekitar dua
puluh kilo meter. Bukit wuser begitu kiranya orang – orang desa itu
menyebutnya.
“mas, kenapa gak mencari tempat camping yang lain
saja?”tanya naim ke kakaknya. “mas sudah tahukan tentang serombongan anak muda
dari desa seberang yang hilang ketika camping disana?”lanjutnya
Rangga hanya diam dan menoleh kearah adiknya yang merasa
ketakutan akan cerita yang menyebar di desanya sepuluh tahun yang lalu.
“iya mas sudah tahu semuanya, dan teman – teman juga sudah
tahu. Karena cerita inilah yang membuat kami penasaran akan cerita itu selama
ini”jawab rangga pada adiknya.
Setelah mendengar jawaban kakaknya naim kembali kebelakang bersama
rizka. Di lihatnya semua teman – teman kakaknya itu enjoy dan menikmati
perjalanan.
“yeeaahhh sebentar lagi kita sampai”teriak ramli dari
belakang kegirangan
“gak sabar ingin mandi di air terjunnya”lanjut rizka
Di bukit wuser konon ada air terjun dan panorama yang sangat
indah disekitar sungai dan dibawah air terjun. Angin bertiup lagi. Lebih dingin
kini. Rintik – rintik air hujan mulai turun.
“rangga, kita harus cepat mendirikan tenda”kata randi
tergesa. Rangga menadahkan wajahnya ke langit, dilihatnya awan itu bergerak.
“tidak perlu”jawab rangga singkat. Dilihatnya kembali langit dan awan itu “
hujan ini cuma lewat sebentar”lanjutnya
Benar prediksi rangga, rintik air hujan itu lewat begitu
saja. Dan angin kembali bertiup. Lebih sejuk terasa. “aneh “batin rangga.
“seharusnya bulan ini tak turun hujan, karena ini musim kemarau”pikirnya lagi
Akhirnya mereka tiba ditempat yang di tuju. Bukit wuser.
Rangga kemudian mencari tempat yang cukup untuk mendirikan dua buah tenda.
Dilihatnya disebelah kanan sungai tempat yang lapang.
“sepertinya tempat itu cocok untuk mendirikan tenda
kita”kata rangga sambil menunjuk kearah tempat lapang di sebelah kanan sungai.
“iya, bagus tuh. Cocok kita bisa melihat pemandangan dari
arah sana”sambung rizka
“wahhh,,, ternyata bagus juga panorama tempat ini”kata setelah
lama terdiam sejak dari perjalanan tadi.
“oke,,, kita bagi tugas. Karena hari mulai sore, aku dan
ramli yang mendirikan tenda. Randi, naim dan riska cepat cari kayu bakar
sebanyak banyaknya untuk nanti malam”perintah rangga pada teman – temannya.
Menjelang malam tenda sudah terpasang. Randi, naim dan rizka
juga sudah selesai mengumpulkan kayu bakar. Tenda berdiri kokoh disebelah kanan
sungai, dibelakang tenda ada lima pohon beringin yang masih kecil berukuran
satu lengan batangnya. Gemuruh air terjun terdengar jelas.
“mas, aku mau kesungai dulu ya”ijin naim pada kakaknya yang
sedang asik bermain gitar bersama teman – temannya
“jangan lama – lama, segera kembali”jawab rangga memberi
ijin
Angin petang mendamaikan suasana. Sesekali terdengar
nyanyian dari rangga dan kawan – kawannya. Dan kadang nyanyian dedauanan yang
tertiup angin dan suara hewan malam yang mulai bersahutan.
“mas, cepat ke sini”teriak naim dari pinggir sungai
Seketika rangga dan teman – temannya berhenti bernyanyi.
Mereka bangkit dan bergegas menghampiri naim.
“ada apa naim?”tanya rangga
“mas, aku menemukan surat dalam botol yang menyangkut diakar
pohon itu”jelas naim pada kakaknya sambil menunjuk kearah pohon mahoni yang
akarnya menjorok ke sungai
“surat dalam botol?”tanya rizka ingin tahu
“berarti pernah ada orang yang ke sini, cepat baca rangga”perintah ramli
Naim menyodorkan botol berisi surat itu kepada rangga. Rangga
pun menerima kemudian membuka tutup botol itu. Tiba – tiba rizka menyambar
surat itu. “sini biar aku yang baca”katanya
“ada lima lembar suratnya”lanjut rizka
“cepetan dibaca”ucap ramli penasaran
Randi yang sejak tadi diam pun ikutan unjuk bicara “sudah
jangan berisik, biarkan rizka membaca dan kita mendengarkannya”
“16 mei 2004
Kami adalah lima sahabat yang setiap hari bersama. Pada suatu
saat kami memutuskan untuk melakukan perjalanan sebagai tanda kebersamaan kami.
Kami memilih sebuah bukit yang terletah di desa seberang. Aku adalah rizal,
teman – temanku bernama reza, renaldo, rika dan nurul. Kami bisa dibilang teman
yang sehidup semati.”
“disurat yan pertama Cuma perkenalan”kata rizka. “oke aku
lanjutkan dilembaran ke dua”lanjutnya
“16 mei 2004
Kami sangat senang saat diperjalanan, karena ini
perjalanan kami yang pertama sebagai tanda persahabatan kami. Sebelum kita
sampai di bukit itu, tiba – tiba hujan gerimis padahal kami mengira tak kan ada
hujan karena saat itu musim kemarau. Dan tiba lah kami disebuah bukit yang
indah dan mempesona pemandangannya. Reza dan aku mendirikan sebuah tenda di
sisi kanan sungai, kami melihat lima buah pohon mahoni dibelakang kami. Air terjun
sangat gemuruh dan terdengar suara hewan kecil disekelilling kami. Sungguh suasana
yang mendamaikan hati”
“nahh kita lanjutkan di lembar yang ke tiga”ucap rizka
sambil membuka lembaran surat itu.
“16 mei 2004
Hari mulai malam. Waktu itu sekitar jam tujuh malam. Api unggun
sudah kami nyalakan. Tiba – tiba kami mendengar dentuman yang keras dari arah
air terjun. Kami serentak kaget. Kami berhamburan keluar dari tenda. Kecuali aku,
karena aku seorang penakut. Aku Cuma bisa melihat dari dalam tenda. Reza,
renaldo, rika dan nurul menuju ke arah terjun itu. Aku hanya mengawasi mereka
dari kejauhan.”
“mas, isi suratnya lama – lama menyeramkan”kata naim mulai
merasa ketakutan
“tenang, tak apa – apa. Ada kami disini”jawab rangga
menenangkan adiknya
“lanjutkan rizka”sahut ramli dari belakang
“16 mei 2004
Angin bertiup kencang. Keadaan menjadi gelap gulita dan
berkabut. Aku sudah tak bisa melihat teman – temanku. Tiba – tiba aku mendengar
jeritan mereka. Aku lari ketakutan bersembunyi di dalam tenda. Aku menangis. Tapi
teman – temanku tak kunjung kembali. Aku mencoba memberanikan diri untuk keluar
dari tenda. Aku dikejutkan dengan bayangan hitam yang merangkulku.”
Naim mulai ketakutan mendengar cerita itu. “mas....”bisiknya
lirih sambil menarik ujung baju kakaknya.
“sudah tenang... mari kita dengarkan lembaran yang terakhir”kata
randi. Rizka pun melanjutkan membaca.
“16 mei 2004
10 tahun akan datang dari peristiwa ini. Ditempat, hari,
tanggal dan jam yang sama. Ada sekelompok pemuda yang datang kemari. Mereka
berlima adalah sahabat. Dan nama mereka semua berawalan yang sama dengan nama
kami. Kami kesepian di sini. Kami butuh teman. Tolong kami.”
Tiba – tiba naim sangat ketakutan. Rangga mulai memandingkan
tempat disurat itu dengan tmpatnya yang sekarang.
“ahh ini pasti ada orang iseng”kata ramli tak percaya
“ran,,,sekarang jam berapa?”tanya rangga pada randi.
“jam tujuh kurang lima”jawab randi cepat
“dengarkan aku, kita harus segera bergegas meninggalkan
tempat ini”perintah rangga mulai kawatir.
“tapi...”sahut randi
“tadi sebelum kita sampai disini, hujan pun turun. Aku juga
merasa aneh karena ini musim kemarau. Sekarang tanggal berapa ram?”jelas rangga
“tanggal 16 mei 2014”jawab ramli
“ini tepat sepuluh tahun dari kejadian itu. Ayo segera
berkemas”perintah rangga
Mereka segera berkemas untuk meninggalkan tempat itu. “ayo
lebih cepat lagi”teriak randi. “ waktu kita dua menit lagi”lanjutnya
Tiba – tiba angin sangat kencang bertiup kearah mereka. Gemuruh
dari air terjun sudah terdengar jelas. Keadaan menjadi gelap. “masssssssssssss.........
“teriak naim ketakutan
“kamu sudah bangun naim?”kata ibunya
“aku dimana bu?”tanyanya bingung
“makanya kalau habis asar jangan tidur. Mimpi apa kog sampai
teriak – teriak?”tanya ibunya
Naim hanya senyum – senyum. “mimpinya seru bu”jawabnya
“ya sudah sana mandi terus makan”perintah ibunya
“yosh mami”jawab naim sambil berlari ke kamar mandi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar