UNTUK PAK MENTRI
2006 yang lalu saya bersama teman – teman menerima surat
kelulusan dari sekolah menengah pertama di salah satu SMP Negeri. Saat itu kami
merasa senang bisa lulus dengan nilai yang memuaskan. Saat itu saya bersama
teman – teman meluapkan kegembiraan kami dengan mencorat coret rambut kami. Tapi
bukan dengan pilok atau sejenisnya, melainkan dengan menggunakan cat air. Potret
kami dulu ingin merasakan kegembiraan seperti yang sering kami lihat ditelevisi
dan media masa lainnya yang menampilkan kelulusan identik dengan corat coret
baju seragam. Saat diperjalanan kami tersadar bahwa kami sperti anak yang tak
berpendidikan. Kami basuh rambut kami dari cat air itu. “begini jauh lebih baik”pkir
kami
Kadang kita lupa saat meluapkan rasa kegembiraan kita. Waktu
itu kami lupa dengan teman – teman kami yang tidak lulus. Yang menangis, sedih
dan menyesal sedangkan kami malah seperti orang setress yang berjalan riang
dengan cat air mewarnai rambut kami.
Lambat laun saya ingat satu hal setelah hari kelulusan itu. Yaitu
tentang soal ujian matematika. Saat itu yang mendapat nilai sempurna 10 ada dua
orang, saya dan teman dekat saya. Saat mengerjakan soal yang paling saya anggap
sulit. Saya dengan kemampuan telepati mencoba bertanya pada teman saya itu. Jawaban
yang dia berikan tidak sama dengan jawaban yang saya punya. Lalu saya menimbang
dan percaya diri dengan jawaban saya sendiri. Tapi kenapa kami dapat nilai yang
sama?nilai sepuluh. Seharusnya harus ada diantara kami yang mendapatkan nilai
sembilan koma dan sepuluh. Entah itu saya atau teman saya.
Mungkin teman – teman seangkatan saya masih ingat tentang UN
saat madrasah aliyah dulu, tahun 2009. Soal UN Antropologi, apa yang
ditryoutkan dan apa yang kami pelajari saat kami masih dibangku bimbingan guru
kami dengan soal UN yang muncul saat hari penentuan itu. Kami dihadapkan dengan
soal – soal yang tak kami pelajari. Al hasil nilai tertinggi untuk nilai UN
Antropologi adalah enam, dan rata - rata nilai antropologi adalah lima. Padahal saat tryout kami bisa mencapai rata –
rata delapan dan sembilan.
Selain itu, saat kami dihadapkan pada soal matematika disana
ada soal untuk jurusan IPS, padahal kami ini jurusan bahasa. Meski saat itu
kami tidak menngerjakan soal untuk jurusan IPS, tapi apa benar itu semua sudah
standar dengan jurusan bahasa pak?. Saat setelah ujian saya mencoba bertanya
pada guru kami tentang salah satu soal. Guru kami saja menyelesaikan soal itu
butuh setengah jam. Lalu kami cuma diberi waktu dua jam untuk mengerjakan soal –
soal semuanya. Coba bapak lihat di soal UN kami tahun 2009.
Bagi saya pak, nilai cuma deretan angka. Tapi apa bapak lupa
setiap orang memandangnya dari nilai. Nilai adalah kebanggaan. Nilai yang
tertera di ijazah kami adalah modal untuk kami mencari kerja, melanjutkan
pendidikan kami. Karena tuntutan nilai itu orang jujur akhirnya mencontek,
sedangkan para siswa saat pengawas datang sudah merasa ketakutan.
Tahun 2012 saya ikut test diperusahaan asing. Saat itu test
yang diujikan adalah matematika dasar dan matematika logika. Yang nilai UNnya
lima tak bisa masuk, lamarannya cuma nyangkut di pos security kecuali saya
karena saya berusaha menyakinkan security kalau saya bisa mengerjakan test itu,
meski saat itu saya mendapat giliran test paling akhir. Saya adalah salah satu
orang yang mendapatkan nilai UN lima di pelajaran antropologi, seperti kata
saya diatas. Saya menemukan teman – teman yang nilai matematikanya tinggi –
tinggi saat UN. Sedangkan saat itu nilai matematika saya tujuh. Lalu saya
berfikir pak, untuk apa UN ini?sedangkan pihak asing saja masih ragu untuk
menerima kami. Mereka masih menyeleksi teman – teman kami dengan nilai
matematika yang diatas nilai delapan. Saya menyaksikan teman – teman perantaun
gugur satu persatu bahkan diantara mereka ada yang mendapat nilai UN bagus –
bagus. Dari 400 orang yang lolos hanya 37 orang. Karena mereka cuma mengejar
nilai, sedangkan pabrik – pabrik asing saja tidak percaya dengan hasil UN
lantas kenapa sitem pendidikan di negeri ini tidak dibenahi.
Tahun 2010 saya ikut test seleksi masuk ke sebuah
universitas terkenal di karawang, UNSIKA (Universitas singaperbangsa karawang).
Saat itu test matematika juga karena saya mengambil prodi pendidikan
matematika. Disana saya juga melihat teman – teman yang saat nilai UN tinggi
pada akhirnya gugur. Lantas untuk apa UN ini pak?pihak asing meragukan hasil
dari UN kami, Universitas juga meragukan kami, sehingga kami di test lagi.
Seharusnya itu menjadi PR kami terutama bapak. Kenapa masih
ada soal yang dipelajari tidak keluar saat UN, sedangkan guru – guru kami sudah
memberi materi sesuai modul yang diberikan. Lalu kenapa masih ada soal
tercampur, dan lebih penting adalah tujuan diadakannya UN ini jika pihak asing
dan universitas masih ragu akan hasil UN kami. Dan tidak kalah penting adalah
sistem pendidikan kita ini, bisa merubah orang jujur menjadi penipu, merubah
orang santun menjadi liar, merubah orang berpendidikan seperti tak punya
pendidikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar