animasi

Terima kasih telah berkunjung diblog kami semoga bermanfaat

Rabu, 21 Mei 2014

UNTUK PAK MENTRI

UNTUK PAK MENTRI

2006 yang lalu saya bersama teman – teman menerima surat kelulusan dari sekolah menengah pertama di salah satu SMP Negeri. Saat itu kami merasa senang bisa lulus dengan nilai yang memuaskan. Saat itu saya bersama teman – teman meluapkan kegembiraan kami dengan mencorat coret rambut kami. Tapi bukan dengan pilok atau sejenisnya, melainkan dengan menggunakan cat air. Potret kami dulu ingin merasakan kegembiraan seperti yang sering kami lihat ditelevisi dan media masa lainnya yang menampilkan kelulusan identik dengan corat coret baju seragam. Saat diperjalanan kami tersadar bahwa kami sperti anak yang tak berpendidikan. Kami basuh rambut kami dari cat air itu. “begini jauh lebih baik”pkir kami
Kadang kita lupa saat meluapkan rasa kegembiraan kita. Waktu itu kami lupa dengan teman – teman kami yang tidak lulus. Yang menangis, sedih dan menyesal sedangkan kami malah seperti orang setress yang berjalan riang dengan cat air mewarnai rambut kami.
Lambat laun saya ingat satu hal setelah hari kelulusan itu. Yaitu tentang soal ujian matematika. Saat itu yang mendapat nilai sempurna 10 ada dua orang, saya dan teman dekat saya. Saat mengerjakan soal yang paling saya anggap sulit. Saya dengan kemampuan telepati mencoba bertanya pada teman saya itu. Jawaban yang dia berikan tidak sama dengan jawaban yang saya punya. Lalu saya menimbang dan percaya diri dengan jawaban saya sendiri. Tapi kenapa kami dapat nilai yang sama?nilai sepuluh. Seharusnya harus ada diantara kami yang mendapatkan nilai sembilan koma dan sepuluh. Entah itu saya atau teman saya.
Mungkin teman – teman seangkatan saya masih ingat tentang UN saat madrasah aliyah dulu, tahun 2009. Soal UN Antropologi, apa yang ditryoutkan dan apa yang kami pelajari saat kami masih dibangku bimbingan guru kami dengan soal UN yang muncul saat hari penentuan itu. Kami dihadapkan dengan soal – soal yang tak kami pelajari. Al hasil nilai tertinggi untuk nilai UN Antropologi adalah enam, dan rata - rata nilai antropologi adalah lima.  Padahal saat tryout kami bisa mencapai rata – rata delapan dan sembilan.
Selain itu, saat kami dihadapkan pada soal matematika disana ada soal untuk jurusan IPS, padahal kami ini jurusan bahasa. Meski saat itu kami tidak menngerjakan soal untuk jurusan IPS, tapi apa benar itu semua sudah standar dengan jurusan bahasa pak?. Saat setelah ujian saya mencoba bertanya pada guru kami tentang salah satu soal. Guru kami saja menyelesaikan soal itu butuh setengah jam. Lalu kami cuma diberi waktu dua jam untuk mengerjakan soal – soal semuanya. Coba bapak lihat di soal UN kami tahun 2009.
Bagi saya pak, nilai cuma deretan angka. Tapi apa bapak lupa setiap orang memandangnya dari nilai. Nilai adalah kebanggaan. Nilai yang tertera di ijazah kami adalah modal untuk kami mencari kerja, melanjutkan pendidikan kami. Karena tuntutan nilai itu orang jujur akhirnya mencontek, sedangkan para siswa saat pengawas datang sudah merasa ketakutan.
Tahun 2012 saya ikut test diperusahaan asing. Saat itu test yang diujikan adalah matematika dasar dan matematika logika. Yang nilai UNnya lima tak bisa masuk, lamarannya cuma nyangkut di pos security kecuali saya karena saya berusaha menyakinkan security kalau saya bisa mengerjakan test itu, meski saat itu saya mendapat giliran test paling akhir. Saya adalah salah satu orang yang mendapatkan nilai UN lima di pelajaran antropologi, seperti kata saya diatas. Saya menemukan teman – teman yang nilai matematikanya tinggi – tinggi saat UN. Sedangkan saat itu nilai matematika saya tujuh. Lalu saya berfikir pak, untuk apa UN ini?sedangkan pihak asing saja masih ragu untuk menerima kami. Mereka masih menyeleksi teman – teman kami dengan nilai matematika yang diatas nilai delapan. Saya menyaksikan teman – teman perantaun gugur satu persatu bahkan diantara mereka ada yang mendapat nilai UN bagus – bagus. Dari 400 orang yang lolos hanya 37 orang. Karena mereka cuma mengejar nilai, sedangkan pabrik – pabrik asing saja tidak percaya dengan hasil UN lantas kenapa sitem pendidikan di negeri ini tidak dibenahi.
Tahun 2010 saya ikut test seleksi masuk ke sebuah universitas terkenal di karawang, UNSIKA (Universitas singaperbangsa karawang). Saat itu test matematika juga karena saya mengambil prodi pendidikan matematika. Disana saya juga melihat teman – teman yang saat nilai UN tinggi pada akhirnya gugur. Lantas untuk apa UN ini pak?pihak asing meragukan hasil dari UN kami, Universitas juga meragukan kami, sehingga kami di test lagi.

Seharusnya itu menjadi PR kami terutama bapak. Kenapa masih ada soal yang dipelajari tidak keluar saat UN, sedangkan guru – guru kami sudah memberi materi sesuai modul yang diberikan. Lalu kenapa masih ada soal tercampur, dan lebih penting adalah tujuan diadakannya UN ini jika pihak asing dan universitas masih ragu akan hasil UN kami. Dan tidak kalah penting adalah sistem pendidikan kita ini, bisa merubah orang jujur menjadi penipu, merubah orang santun menjadi liar, merubah orang berpendidikan seperti tak punya pendidikan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar