animasi

Terima kasih telah berkunjung diblog kami semoga bermanfaat

Rabu, 14 Mei 2014

NAMANYA NAIM

Namanya naim, ku kenal dia sejak saat aku menggembala kambing sepuluh tahun yang lalu. Ya benar sekitar sepuluh tahun yang lalu. Saat itu usiaku masih empat belas tahun. Aku masih duduk di kelas dua SMP. Dan usianya masih dua belas tahunan.
Saat itu dia berjalan bersama kakak kandungnya  yang juga kakak kelasku. Saat aku menyapa kakaknya dia tersenyum padaku.” Dan senyumnya begitu membekas di ingatanku. Jembatan itu sebagai saksi mati pertemuanku dengannya. Angin sore itu pun mengolok – olokku. Dan bayangan naim terekam dalam memoriku. Kambing – kambing gembalaanku pun tersenyum manis menatapku.
“naim ya,...”pikiranku mulai merekam nama dan raut wajahnya.
Setahun setelah pertemuan pertamaku dengan naim, kami dipertemukan di sekolah tempat kakaknya dan aku belajar. Waktu itu aku sebagai ketua OSIS dan diberi kesempatan mengajar MOS. Aku masuk di kelas tujuh A, dan aku tertegun melihat naim duduk dikelas itu. Masih sama, senyumnya masih seperti pertama aku bertemu. Ya setahun yang lalu.
“naim???”batinku
Dia orang yang ku kenal pertama dikelas itu. Entah apa yang membuatku ingat pada naim. Mungkin sejak pertama aku sudah menaruh hati padanya.
Hari – hari berlalu di sekolah itu, aku merasa semakin dekat dengannya. Ditambah dia juga masuk di OSIS. Dan tentu aku semakin mengenalnya. Naim yang manis, naim yang anggun. Yang selalu membuatku tak biasa saat di dekatnya. Merasa canggung mau menyapa. Perasaan apa ini.
Dulu belum ada handphone seperti saat ini. Komunikasi dengan naim pun kalau masuk sekolah saat jam istirahat dan saat dikantin sekolah. Lama – lama aku merasa kehabisan kata saat bersamanya, seolah lidahku kaku. Tak bisa bicara.
Aku sudah mendekati kelulusanku. Dan aku ingin naim tahu tentan perasaanku padanya. Lalu ku putuskan untuk menulis surat padanya.
untuk naim...
Aku adalah sebagian orang yang mencoba menyayangimu. Dan mencoba menahan rasaku. Dan akhirnya pun aku tak bisa menahannya. Ini adalah perasaan kagum, atau perasaan anak kecil yang memulai remajanya. Entah apa itu, aku cuma ingin kau tahu jika selama ini aku menaruh hati padamu”
Dariku...
Naim, ku kirimkan surat itu bersama perasaan ini. Apa kau meneerimanya dengan lengkap?
Begitulah kiranya. Cerita ini ku persingkat.
Setelah aku lulus dari SMP. Aku sudah tidak tahu bagaimana keadaanmu, kabarmu bahkan aku juga tak tahu adakah orang lain dihatimu. Sedang suratku tak kunjung kau balas, mungkin kau benar karena aku tak meminta balasan. Aku hanya ingin kau tahu.
“naim...”
Naim, aku sekarang berada dijauh. Aku dipenjara suci. Aku tak bisa pulang jika aku tak diijinkan pulang. Semoga kau pun juga baik – baik dan masih tetap melanjutkan studimu.
Ku tulis setiap perjalananku dan perasaanku. Meski aku tahu mungkin kau tak mengharapkanku. Aku masih ingat, saat itu ada lomba menulis cerpen di tempatku belajar. Lomba menulis cerpen. Apa kau tahu naim?aku menulis sebuah cerpen tentang perasaanku padamu. Meski aku tambahi bumbu – bumbu agar cerpen itu lebih menarik. Tapi kau tetap pemeran utama dalam cerpen itu, kau tetap inspirasi dari cerpen itu.
“naim”
Ku beri judul cerpen itu. Sebuah nama yang aku kenal dan membuatku ada rasa padamu. Aku pun tak menyangka jika cerpen itu menjadi cerpen terbaik. Aku mendapat sebuah tropi dan piagam. Naim aku merasa kau juga hadir saat aku dipanggil keatas panggung menerima tropi itu. Kau seakan melihatku, dan tersenyum seperti saat aku pertama bertemu denganmu.
Apa kau tahu naim?rasanya aku ingin memberi tahumu tentang hal ini. Tapi aku tak tahu bagaimana caranya.
Suatu pagi diliburan idul adha. Aku dapat ijin pulang dari penjara suci. Aku ingin segera menemuimu dan memberi tahu akan cerpen itu. Saat aku melintas didepan sekolah dimana kita sekolah dulu. Aku melihatmu bersama orang yang aku kenal sebagai teman sekelasmu. Dan aku pun mencari tahu ternyata kau menaruh hati pada temanmu itu.
“naim??”
“benarkah itu naim?”batinku mulai bergejolak
Maka ku urungkan niatku untuk menemuimu. Ku coba menghapus namamu.
Tiga tahun sudah aku tak mendengar kabar darimu, tiga tahun sudah aku tak bertemu denganmu. Tapi perasaanku padamu juga masih sama.
“naim?”sapaku saat aku bertemu naim di pasar
“kamu?”tanyanya
“iya, kau masih ingatkan?”balasku bertanya
“wah sudah lama ya gak bertemu, pasti kau sudah lulus?”
“dan begitu juga kamukan?”
“he’em...”jawabnya sambil tersenyum.
Saat pertemuan itu aku mulai bisa mengusai ketidak seimbanganku. Aku sekarang bisa lebih banyak berbicara. Saat itu usiaku 22 tahun. Naim yang ku kenal dulu bukan naim yang kukenal sekarang, lebih anggun dengan jilbabnya, meski senyumnya tak pernah berubah.
“kalau kamu tak sibuk, aku ingin mengajakmu ngobrol banyak sambil makan, bagaimana?”ajakku
“ohh.. iya, boleh”jawabnya tak sedingin dulu.
Kami pun ke warung soto dekat pasar itu. Bisa dibilang ini pertama aku dengannya bisa sedekat ini. Dan ini kali pertama aku mengajaknya makan.
“teruskan....”pintanya
“apa kau tau naim?”tanyaku, dan dia berusaha mendengarkanku, dan menatapku seolah memintaku menceritakan semua apa yang ingin aku katakan
“naim... aku tak pernah minta balasan darimu, dan aku tak kan menyalahkanmu. Terima kasih, selama ini kau menjadi inspirasiku. Aku membuat cerpen tentang perasaanku padamu, dan hasilnya aku jadi yang terbaik, kapan – kapan datanglah kerumahku. Sejak itu aku sering menulis cerita, tapi aku bingun tak ada yang membacanya. Maka aku mencari orang untuk membaca ceritaku. Jika kau ingin membaca ceritaku, kutitipkan cerita itu pada temanmu..kadang aku ingin mengejarmu, kadang aku juga merasa lelah mengejarmu. Maka kuputuskan untuk menunggumu”
“sudah lama ya..”potongnya
“ya sudah lama, aku juga menunggumu dan berusaha memperbaiki diriku”lanjutnya.
“lalu..?”
“tapi aku tak ada rasa padamu, pernah ku coba, tapi aku tetap tak bisa”
“begitu ya”aku pun tertunduk, dan aku kehilangan keseimbanganku
Sejak pertemuan terakhir itu aku benar – benar ingin melupakannya. Sudah tak ada lagi kertas yang terluka karena keegoisan dari perasaan seseorang. Tak ada lagi saksi – saksi bisu yang untuk dijadikan kenangan. Tak ada lagi senyum kambing – kambing yang ku gembalakan.
Aku telah gagal.
Sore itu aku bertemu dengan teman lama. Hendak aku ceritakan perasaan ini pada seseorang. Biar ada tempat berbagi. Ada yang mengingatkanku jika aku telah salah dalam mengelola perasaanku.
“kamu ahmad kan?”tanyaku kala itu
Ia hanya tersenyum menatapku. Pandangannya lebih sejuk dan mendamaikan hati yang melihatnya. Jauh berbeda dengan ahmad yang aku kenal dulu. Dekil, nakal, dan suka cengengesan.
“sudah lama gak bertemu ya”lanjutku
“iya, sudah hampir enam tahun dari saat terakhir kita bertemu, kau juga tampak dewasa”katanya halus. Dan dihiasai senyumannya yang dulu tak pernah aku lihat.
Mungkin enam tahun itu dia gunakan waktunya untuk berbenah diri. Dulu kami sekelas waktu di madrasah aliyah, bahkan sebangku. Setelah lulus aku tak melihatnya. Bahkan lebaran pun cuma kudengar kabarnya saja. Saat aku berkunjung ke rumahnya dia sudah pergi. Dan keluarganya hanya menjawab dia kerja sambil sekolah saat kutanya mengapa cepat sekali balik.
“antum sudah menikah?”tanyanya disela – sela obrolan kami
“belum mad”jawabku pelan
“wahhh aku dengar teman – teman yang lain sudah menikah, lalu kapan kamu menyusul”
“jangan lama – lama lho”lanjutnya sambil tersenyum manis kearahku.
“kamu pasti bahagia sekarang, istri dan anakmu pasti bangga padamu”aku ingin bicara lagi tapi hanya itu saja yang bisa kuucapkan, ku batalkan niatku untuk cerita tentang naim padanya. Dia menungguku bicara lagi, tapi hanya itu yang ku katakan
Dia pun hanya menjawabnya dengan senyuman. Dia pergi sambil melambaikan tangannya kearahku. “ingat, lekas menyusul...”
Sebulan setelah pertemuanku dengan ahmad aku mulai sadar kekuranganku. Kita dikasih waktu yang sama dalam sehari semalam dua puluh empat jam. Lantas mengapa aku merasa tertinggal dari teman – temanku. Aku masih ingat aku menjadi tempat bertanya bagi teman – teman jika mengalami kesullitan. Aku terlena, aku terlalu sibuk memikirkan hal yang tak perlu.
Sore itu aku pergi ke sungai disebelah barat rumahku. Aku merenung diatas batu besar. Terdengar gemercik air menertawakanku. Kutatap langit tapi menggambarkan suram hatiku. Air mengalir dengan riangnya. Angin sore ditambah bau air menerpaku.
“aku telah gagal”batinku
“aku telah gagal menjadi kakak yang baik untuk adikku, aku gagal menjadi guru yang terbaik untuk murid – muridku. Aku gagal menjadi anak yang berbakti. Dan aku telah gagal mendapatkan cintaku. Hidupku penuh kegagalan”perasaanku semakin mengharu biru.

Senja dibarat merah keemasan. Angin menerpa berbau malam. Lebih tajam kini. Sepi dan hening aku tertelan gelap malam.

karya : mas mis (edisi latihan)
cerita ini hanya fiktif belaka, jika terdapat kesamaan nama dan cerita mohon dimaafkan 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar