Namanya naim, ku kenal dia sejak saat aku menggembala
kambing sepuluh tahun yang lalu. Ya benar sekitar sepuluh tahun yang lalu. Saat
itu usiaku masih empat belas tahun. Aku masih duduk di kelas dua SMP. Dan usianya
masih dua belas tahunan.
Saat itu dia berjalan bersama
kakak kandungnya yang juga kakak kelasku.
Saat aku menyapa kakaknya dia tersenyum padaku.” Dan senyumnya begitu membekas di
ingatanku. Jembatan itu sebagai saksi mati pertemuanku dengannya. Angin sore
itu pun mengolok – olokku. Dan bayangan naim terekam dalam memoriku. Kambing –
kambing gembalaanku pun tersenyum manis menatapku.
“naim ya,...”pikiranku mulai
merekam nama dan raut wajahnya.
Setahun setelah pertemuan
pertamaku dengan naim, kami dipertemukan di sekolah tempat kakaknya dan aku
belajar. Waktu itu aku sebagai ketua OSIS dan diberi kesempatan mengajar MOS. Aku
masuk di kelas tujuh A, dan aku tertegun melihat naim duduk dikelas itu. Masih sama,
senyumnya masih seperti pertama aku bertemu. Ya setahun yang lalu.
“naim???”batinku
Dia orang yang ku kenal pertama
dikelas itu. Entah apa yang membuatku ingat pada naim. Mungkin sejak pertama aku
sudah menaruh hati padanya.
Hari – hari berlalu di sekolah
itu, aku merasa semakin dekat dengannya. Ditambah dia juga masuk di OSIS. Dan tentu
aku semakin mengenalnya. Naim yang manis, naim yang anggun. Yang selalu
membuatku tak biasa saat di dekatnya. Merasa canggung mau menyapa. Perasaan apa
ini.
Dulu belum ada handphone seperti
saat ini. Komunikasi dengan naim pun kalau masuk sekolah saat jam istirahat dan
saat dikantin sekolah. Lama – lama aku merasa kehabisan kata saat bersamanya,
seolah lidahku kaku. Tak bisa bicara.
Aku sudah mendekati kelulusanku. Dan
aku ingin naim tahu tentan perasaanku padanya. Lalu ku putuskan untuk menulis
surat padanya.
“untuk naim...
Aku adalah sebagian orang yang
mencoba menyayangimu. Dan mencoba menahan rasaku. Dan akhirnya pun aku tak bisa
menahannya. Ini adalah perasaan kagum, atau perasaan anak kecil yang memulai
remajanya. Entah apa itu, aku cuma ingin kau tahu jika selama ini aku menaruh
hati padamu”
Dariku...
Naim, ku kirimkan surat itu
bersama perasaan ini. Apa kau meneerimanya dengan lengkap?
Begitulah kiranya. Cerita ini ku
persingkat.
Setelah aku lulus dari SMP. Aku sudah
tidak tahu bagaimana keadaanmu, kabarmu bahkan aku juga tak tahu adakah orang
lain dihatimu. Sedang suratku tak kunjung kau balas, mungkin kau benar karena
aku tak meminta balasan. Aku hanya ingin kau tahu.
“naim...”
Naim, aku sekarang berada dijauh.
Aku dipenjara suci. Aku tak bisa pulang jika aku tak diijinkan pulang. Semoga kau
pun juga baik – baik dan masih tetap melanjutkan studimu.
Ku tulis setiap perjalananku dan
perasaanku. Meski aku tahu mungkin kau tak mengharapkanku. Aku masih ingat,
saat itu ada lomba menulis cerpen di tempatku belajar. Lomba menulis cerpen. Apa
kau tahu naim?aku menulis sebuah cerpen tentang perasaanku padamu. Meski aku
tambahi bumbu – bumbu agar cerpen itu lebih menarik. Tapi kau tetap pemeran
utama dalam cerpen itu, kau tetap inspirasi dari cerpen itu.
“naim”
Ku beri judul cerpen itu. Sebuah nama
yang aku kenal dan membuatku ada rasa padamu. Aku pun tak menyangka jika cerpen
itu menjadi cerpen terbaik. Aku mendapat sebuah tropi dan piagam. Naim aku
merasa kau juga hadir saat aku dipanggil keatas panggung menerima tropi itu. Kau
seakan melihatku, dan tersenyum seperti saat aku pertama bertemu denganmu.
Apa kau tahu naim?rasanya aku
ingin memberi tahumu tentang hal ini. Tapi aku tak tahu bagaimana caranya.
Suatu pagi diliburan idul adha. Aku
dapat ijin pulang dari penjara suci. Aku ingin segera menemuimu dan memberi
tahu akan cerpen itu. Saat aku melintas didepan sekolah dimana kita sekolah
dulu. Aku melihatmu bersama orang yang aku kenal sebagai teman sekelasmu. Dan aku
pun mencari tahu ternyata kau menaruh hati pada temanmu itu.
“naim??”
“benarkah itu naim?”batinku mulai
bergejolak
Maka ku urungkan niatku untuk menemuimu.
Ku coba menghapus namamu.
Tiga tahun sudah aku tak
mendengar kabar darimu, tiga tahun sudah aku tak bertemu denganmu. Tapi perasaanku
padamu juga masih sama.
“naim?”sapaku saat aku bertemu
naim di pasar
“kamu?”tanyanya
“iya, kau masih ingatkan?”balasku
bertanya
“wah sudah lama ya gak bertemu,
pasti kau sudah lulus?”
“dan begitu juga kamukan?”
“he’em...”jawabnya sambil
tersenyum.
Saat pertemuan itu aku mulai bisa
mengusai ketidak seimbanganku. Aku sekarang bisa lebih banyak berbicara. Saat itu
usiaku 22 tahun. Naim yang ku kenal dulu bukan naim yang kukenal sekarang,
lebih anggun dengan jilbabnya, meski senyumnya tak pernah berubah.
“kalau kamu tak sibuk, aku ingin
mengajakmu ngobrol banyak sambil makan, bagaimana?”ajakku
“ohh.. iya, boleh”jawabnya tak
sedingin dulu.
Kami pun ke warung soto dekat
pasar itu. Bisa dibilang ini pertama aku dengannya bisa sedekat ini. Dan ini
kali pertama aku mengajaknya makan.
“teruskan....”pintanya
“apa kau tau naim?”tanyaku, dan
dia berusaha mendengarkanku, dan menatapku seolah memintaku menceritakan semua
apa yang ingin aku katakan
“naim... aku tak pernah minta
balasan darimu, dan aku tak kan menyalahkanmu. Terima kasih, selama ini kau
menjadi inspirasiku. Aku membuat cerpen tentang perasaanku padamu, dan hasilnya
aku jadi yang terbaik, kapan – kapan datanglah kerumahku. Sejak itu aku sering
menulis cerita, tapi aku bingun tak ada yang membacanya. Maka aku mencari orang
untuk membaca ceritaku. Jika kau ingin membaca ceritaku, kutitipkan cerita itu
pada temanmu..kadang aku ingin mengejarmu, kadang aku juga merasa lelah
mengejarmu. Maka kuputuskan untuk menunggumu”
“sudah lama ya..”potongnya
“ya sudah lama, aku juga
menunggumu dan berusaha memperbaiki diriku”lanjutnya.
“lalu..?”
“tapi aku tak ada rasa padamu,
pernah ku coba, tapi aku tetap tak bisa”
“begitu ya”aku pun tertunduk, dan
aku kehilangan keseimbanganku
Sejak pertemuan terakhir itu aku
benar – benar ingin melupakannya. Sudah tak ada lagi kertas yang terluka karena
keegoisan dari perasaan seseorang. Tak ada lagi saksi – saksi bisu yang untuk
dijadikan kenangan. Tak ada lagi senyum kambing – kambing yang ku gembalakan.
Aku telah gagal.
Sore itu aku bertemu dengan teman
lama. Hendak aku ceritakan perasaan ini pada seseorang. Biar ada tempat
berbagi. Ada yang mengingatkanku jika aku telah salah dalam mengelola
perasaanku.
“kamu ahmad kan?”tanyaku kala itu
Ia hanya tersenyum menatapku.
Pandangannya lebih sejuk dan mendamaikan hati yang melihatnya. Jauh berbeda
dengan ahmad yang aku kenal dulu. Dekil, nakal, dan suka cengengesan.
“sudah lama gak bertemu
ya”lanjutku
“iya, sudah hampir enam tahun
dari saat terakhir kita bertemu, kau juga tampak dewasa”katanya halus. Dan
dihiasai senyumannya yang dulu tak pernah aku lihat.
Mungkin enam tahun itu dia
gunakan waktunya untuk berbenah diri. Dulu kami sekelas waktu di madrasah aliyah,
bahkan sebangku. Setelah lulus aku tak melihatnya. Bahkan lebaran pun cuma
kudengar kabarnya saja. Saat aku berkunjung ke rumahnya dia sudah pergi. Dan
keluarganya hanya menjawab dia kerja sambil sekolah saat kutanya mengapa cepat
sekali balik.
“antum sudah menikah?”tanyanya
disela – sela obrolan kami
“belum mad”jawabku pelan
“wahhh aku dengar teman – teman
yang lain sudah menikah, lalu kapan kamu menyusul”
“jangan lama – lama lho”lanjutnya
sambil tersenyum manis kearahku.
“kamu pasti bahagia sekarang,
istri dan anakmu pasti bangga padamu”aku ingin bicara lagi tapi hanya itu saja
yang bisa kuucapkan, ku batalkan niatku untuk cerita tentang naim padanya. Dia menungguku
bicara lagi, tapi hanya itu yang ku katakan
Dia pun hanya menjawabnya dengan
senyuman. Dia pergi sambil melambaikan tangannya kearahku. “ingat, lekas menyusul...”
Sebulan setelah pertemuanku
dengan ahmad aku mulai sadar kekuranganku. Kita dikasih waktu yang sama dalam
sehari semalam dua puluh empat jam. Lantas mengapa aku merasa tertinggal dari
teman – temanku. Aku masih ingat aku menjadi tempat bertanya bagi teman – teman
jika mengalami kesullitan. Aku terlena, aku terlalu sibuk memikirkan hal yang
tak perlu.
Sore itu aku pergi ke sungai
disebelah barat rumahku. Aku merenung diatas batu besar. Terdengar gemercik air
menertawakanku. Kutatap langit tapi menggambarkan suram hatiku. Air mengalir
dengan riangnya. Angin sore ditambah bau air menerpaku.
“aku telah gagal”batinku
“aku telah gagal menjadi kakak
yang baik untuk adikku, aku gagal menjadi guru yang terbaik untuk murid –
muridku. Aku gagal menjadi anak yang berbakti. Dan aku telah gagal mendapatkan
cintaku. Hidupku penuh kegagalan”perasaanku semakin mengharu biru.
Senja dibarat merah keemasan.
Angin menerpa berbau malam. Lebih tajam kini. Sepi dan hening aku tertelan
gelap malam.
karya : mas mis (edisi latihan)
cerita ini hanya fiktif belaka, jika terdapat kesamaan nama dan cerita mohon dimaafkan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar