animasi

Terima kasih telah berkunjung diblog kami semoga bermanfaat

Rabu, 21 Mei 2014

UNTUK PAK MENTRI

UNTUK PAK MENTRI

2006 yang lalu saya bersama teman – teman menerima surat kelulusan dari sekolah menengah pertama di salah satu SMP Negeri. Saat itu kami merasa senang bisa lulus dengan nilai yang memuaskan. Saat itu saya bersama teman – teman meluapkan kegembiraan kami dengan mencorat coret rambut kami. Tapi bukan dengan pilok atau sejenisnya, melainkan dengan menggunakan cat air. Potret kami dulu ingin merasakan kegembiraan seperti yang sering kami lihat ditelevisi dan media masa lainnya yang menampilkan kelulusan identik dengan corat coret baju seragam. Saat diperjalanan kami tersadar bahwa kami sperti anak yang tak berpendidikan. Kami basuh rambut kami dari cat air itu. “begini jauh lebih baik”pkir kami
Kadang kita lupa saat meluapkan rasa kegembiraan kita. Waktu itu kami lupa dengan teman – teman kami yang tidak lulus. Yang menangis, sedih dan menyesal sedangkan kami malah seperti orang setress yang berjalan riang dengan cat air mewarnai rambut kami.
Lambat laun saya ingat satu hal setelah hari kelulusan itu. Yaitu tentang soal ujian matematika. Saat itu yang mendapat nilai sempurna 10 ada dua orang, saya dan teman dekat saya. Saat mengerjakan soal yang paling saya anggap sulit. Saya dengan kemampuan telepati mencoba bertanya pada teman saya itu. Jawaban yang dia berikan tidak sama dengan jawaban yang saya punya. Lalu saya menimbang dan percaya diri dengan jawaban saya sendiri. Tapi kenapa kami dapat nilai yang sama?nilai sepuluh. Seharusnya harus ada diantara kami yang mendapatkan nilai sembilan koma dan sepuluh. Entah itu saya atau teman saya.
Mungkin teman – teman seangkatan saya masih ingat tentang UN saat madrasah aliyah dulu, tahun 2009. Soal UN Antropologi, apa yang ditryoutkan dan apa yang kami pelajari saat kami masih dibangku bimbingan guru kami dengan soal UN yang muncul saat hari penentuan itu. Kami dihadapkan dengan soal – soal yang tak kami pelajari. Al hasil nilai tertinggi untuk nilai UN Antropologi adalah enam, dan rata - rata nilai antropologi adalah lima.  Padahal saat tryout kami bisa mencapai rata – rata delapan dan sembilan.
Selain itu, saat kami dihadapkan pada soal matematika disana ada soal untuk jurusan IPS, padahal kami ini jurusan bahasa. Meski saat itu kami tidak menngerjakan soal untuk jurusan IPS, tapi apa benar itu semua sudah standar dengan jurusan bahasa pak?. Saat setelah ujian saya mencoba bertanya pada guru kami tentang salah satu soal. Guru kami saja menyelesaikan soal itu butuh setengah jam. Lalu kami cuma diberi waktu dua jam untuk mengerjakan soal – soal semuanya. Coba bapak lihat di soal UN kami tahun 2009.
Bagi saya pak, nilai cuma deretan angka. Tapi apa bapak lupa setiap orang memandangnya dari nilai. Nilai adalah kebanggaan. Nilai yang tertera di ijazah kami adalah modal untuk kami mencari kerja, melanjutkan pendidikan kami. Karena tuntutan nilai itu orang jujur akhirnya mencontek, sedangkan para siswa saat pengawas datang sudah merasa ketakutan.
Tahun 2012 saya ikut test diperusahaan asing. Saat itu test yang diujikan adalah matematika dasar dan matematika logika. Yang nilai UNnya lima tak bisa masuk, lamarannya cuma nyangkut di pos security kecuali saya karena saya berusaha menyakinkan security kalau saya bisa mengerjakan test itu, meski saat itu saya mendapat giliran test paling akhir. Saya adalah salah satu orang yang mendapatkan nilai UN lima di pelajaran antropologi, seperti kata saya diatas. Saya menemukan teman – teman yang nilai matematikanya tinggi – tinggi saat UN. Sedangkan saat itu nilai matematika saya tujuh. Lalu saya berfikir pak, untuk apa UN ini?sedangkan pihak asing saja masih ragu untuk menerima kami. Mereka masih menyeleksi teman – teman kami dengan nilai matematika yang diatas nilai delapan. Saya menyaksikan teman – teman perantaun gugur satu persatu bahkan diantara mereka ada yang mendapat nilai UN bagus – bagus. Dari 400 orang yang lolos hanya 37 orang. Karena mereka cuma mengejar nilai, sedangkan pabrik – pabrik asing saja tidak percaya dengan hasil UN lantas kenapa sitem pendidikan di negeri ini tidak dibenahi.
Tahun 2010 saya ikut test seleksi masuk ke sebuah universitas terkenal di karawang, UNSIKA (Universitas singaperbangsa karawang). Saat itu test matematika juga karena saya mengambil prodi pendidikan matematika. Disana saya juga melihat teman – teman yang saat nilai UN tinggi pada akhirnya gugur. Lantas untuk apa UN ini pak?pihak asing meragukan hasil dari UN kami, Universitas juga meragukan kami, sehingga kami di test lagi.

Seharusnya itu menjadi PR kami terutama bapak. Kenapa masih ada soal yang dipelajari tidak keluar saat UN, sedangkan guru – guru kami sudah memberi materi sesuai modul yang diberikan. Lalu kenapa masih ada soal tercampur, dan lebih penting adalah tujuan diadakannya UN ini jika pihak asing dan universitas masih ragu akan hasil UN kami. Dan tidak kalah penting adalah sistem pendidikan kita ini, bisa merubah orang jujur menjadi penipu, merubah orang santun menjadi liar, merubah orang berpendidikan seperti tak punya pendidikan. 

Sabtu, 17 Mei 2014

MASA DEPAN

"Ayah, aku tidak begitu mengerti bagaimana takdir itu. Apakah itu seperti awan yang berarak mengikuti arus yang sudah ditetapkan, ataukah suatu yang bisa diperjuangkan. Entahlah aku belum begitu mengerti. Tapi, setelah pertarungan ini aku mengerti, mereka yang memilih cara kedua dalam memenuhi takdirnya adalah orang yang benar - benar kuat."(Neji Hyuga - Naruto manga)
Masa depan. Masa depan. Masa depan. Ahh omong apa kau?. Kau omong apa?. Apa yang kau omongkan?. Masa depan. Masa depan yang mana?. Keangkuhan, kesombongan atau kecongkakan yang kau katakan masa depan. Masa depan yang mana?. Masa depanmu kau nodai. Masa depanmu kau rusak. Masa depanmu kau robek. Masa depanmu kau cabut dari rohnya, kau tanamkan pada jiwamu rasa kedengkian. . Apa itu yang kau katakan masa depan?masa depan yang mana?. Ingatkan pada jiwamu ketika kau dilahirkan dari garba ibu. Kau ditimang sayang seraya ibu membisikkan kata cinta ditelingamu. “kau harus punya madece leee...madece...masa depan cerah. Sedangkan masa depanmu kau nodai, masa depanmu kau rusak, masa depanmu kau cabut dari rohnya, apa itu yang kau katakan masa depan? Masa depan yang mana jika kau taruh dengkulmu dikepalamu dan kepalamu didengkulku. Yang ada hanya madesu, masa depan suram.
Kata – kata diatas adalah potongan puisi yang berjudul madesu. Puisi itu diajarkan oleh seorang ustadz dari pondok pesantern al iman ponorogo. Beliau bernama ustadz Edi sujarwo pada tahun 2003 saat saya masih belajar di TPA (Taman Pendidikan Al-Quran). Puisi itu dibaca saat JAMAIS (jambore anak islam) oleh seorang santriwati di TPA itu. Saya masih ingat ketika puisi itu dibacakan semua mata yang hadir didepan panggung hanya tertuju pada santriwati itu. Setelah selesai semua orang bertepuk tangan.
Dari bait puisi diatas kita harus sadar mau seperti apa kehidupan kita di masa depan. Masa depan yang penuh noda, masa depan yang telah kita rusak sebelum waktunya tiba atau masa depan yang cerah. Dari setiap orang tua pasti pasti menasehati anaknya untuk mempunyai masa depan yang cerah. Masa depan yang kita tunggu, tanpa kita tunggu pun pasti datang.
Suatu hari ada lomba cerdas cermat islami di tempat saya  bekerja. Pesertanya perwakilan dari setiap seksi di pabrik. Saat lomba berlangsung, saya merasa tak bisa apa – apa. Meski saya alumni madrasah tapi ternyata pengetahuan saya sangat kurang. Al hasil saya berada di juarra harapan. Saat itu saya sadar dan mengingat hal apa saja yang saya lakukan saat dimadrasah. Alangkah menyesalnya diri ini yang tak pernah serius saat belajar. Tidur saat pelajaran bahkan tak jarang mengerjakan tugas. Ini bagian dari penyesalan itu.
Kita harus mempersiapkan masa depan dengan lebih banyak belajar, lebih banyak berbuat, dan lebih banyak beribadah. Jangan sampai kita menyesal di masa depan karena ulah kita di masa lalu. Banyak orang bilang sejelek apapun masa laluku tapi masa depanku masih suci. Tapi kalau tidak kita biasakan dengan yang baik –baik dari sekarang bisa jadi masa depan kita bisa ternoda.
Mengulangi alur yang sama dalam kejelekan. Saat kita berbuat jahat, berbuat jelek dan kita mengikuti alur yang sama, sudah tentu kita akan mengulangi kesalahan yang sama. Saat anda berbuat baik dan anda mengikuti alur yang sama tentu Anda akan mengulangi alur kebaikan itu. Jadi perlunya kebiasaan baik untuk menyiapkan masa depan yang suci.
Pernahkah Anda melihat film power rangers? Yang setiap minggu ditayangkan disalah satu televisi swasta dinegeri ini. Ternyata power rangers pun mengulangi alur yang sama. Begitu pula dengan monster yang menyerang bumi. Setelah monster kalah, maka dia menjadi besar, para power rangers memanggil robot dan bergabung untuk mengalahkannya. Alur yang sama seperti itu sering terjadi. Begitu pula monster selalu kalah karena mengulangi kesalahan yang sama.
Kata guru bahasa indonesia saat masih di sekolah menengah pertama bahwa alur itu menentukan bagaimana cerita itu dibentuk. Jadi mari kita buat alur kehidupan kita menjadi alur yang lebih baik dari hari sebelumnya.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar benar dalam kerugian. Kecuali orang – orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasehati supaya menaati kebenaran dan saling menasehati supaya menetapi kesabaran (QS. Al – ‘Asshr : 1-3)

9 DARI 10

“9 dari 10 pintu rezeki itu berasal dari perniagaan/perdagangan”(HR. Tirmidzi)
19 tahun yang lalu seorang lulusan Sekolah Dasar merantau ke jakarta. Dia bersama istrinya yang sama – sama lulusan sekolah dasar. Di perantauan sang suami berjualan bakso dan sang istri berjualan jamu gendong, keliling dari perumahan satu ke perumahan lainnya. Hidup pas – pasan dan tinggal dikontrakan yang kecil cukup untuk tidur mereka berdua. Setiap hari mereka harus bangun pagi untuk mempersiapkan jualannya. Sang istri berangkat jam tujuh pagi dan pulang sekitar jam sebelas siang. Sedangkan sang suami mulai mendorong gerobak baksonya mulai jam dua siang sampai jam sepuluh malam. Itu berlangsung bertahun – tahun lamanya. Dan akhirnya sekarang mereka punya dua anak perempuan dan tinggal dirumah sendiri. Bahkan mereka sudah punya kontrakan sendiri empat kamar. Saya pernah tinggal bersama mereka. Bahkan saya pernah ikut jualan. Satu bukti kebenaran dari hadist diatas bahwa 9 dari 10 pintu rezeki itu berasal dari perdagangan. Suami istri itu adalah kakakku dan kakak iparku.
Waktu itu saya masih ngekos di daerah sunter. Setiap hari makan ke warteg dan nasi goreng yang disamping kosan. Semakin lama saya mulai kenal dekat dengan bapak penjua lnasi goreng itu. Saat dia membersihkan selokan saya mencoba menghampirinya dan mengajaknya mengobrol. Setelah mendengar bapak itu berbicara, saya merasa kagum dengan bapak itu. Ternyata bapak itu punya tiga orang anak. Satu laki – laki dan dua perempuan. Usut punya usut ketiga anak bapak itu semuanya kuliyah. Yang laki – laki sarjana teknik dan anak kedua anak perempuannya masih kuliyah bidan. Bahkan bukan itu saja yang membuat saya kagum. Waktu ada mobil toyota avanza hitam diparkir didepan kosan, saya tak pernah mengira mobil itu milik bapak penjual nasi goreng itu. “luar biasa”pikir saya. Seorang penjual nasi goreng bisa mengkuliyahkan ketiga anaknya dan punya mobil pula. Sedangkan saya yang karyawan pabrik swasta jangankan mobil, motor pun tak punya. Ini membuktikan bahwa perdagangan adalah pintu rezeki.
Banyak orang yanng ketika ditanya “mas kapan jadi pengusaha atau pedagang?” jawabnya nanti mas kalau sudah punya modal. Saya pernah membaca bukunya yusuf mansur yang terkenal dengan ustadz sedekah, dibukunya yang berjudul semua bisa jadi pengusaha, disana ditulis modal pertama seorang pengusaha adalah doa. Allah memberikan modal yang sama antara si kaya dan si miskin untuk memulai jadi pengusaha atau pedagang. Yaitu doa. Jadi konsep jadi pengusaha di mulai dari Allah dulu, Allah lagi, Allah terus.
Lantas setelah doa apa?ya sudah tentu usaha. Saya punya teman yang satu angkatan dengan saya waktu di madrasah aliyah. Setelah lulus dari madrasah tahun 2009, dia merantau ke jakarta. Dia ikut orang lain menjualkan buku di daerah blok M square. Entah berapa gajinya saat itu. Mungkin satu juta lebih. Setelah satu tahun ikut berjualan dikios orang, dia mencoba sewa kios dan berjualan buku sendiri. Dengan modal yang didapat dari gaji waktu jadi penjaga kios orang akhirnya dia bisa berjualan di kios sendiri. Saya masih ingat waktu awal buka, buku yang dijual masih sedikit. Itu pun cuma buku resep masakan dan tentang aplikasi komputer. Bulan berganti bulan,  dan di tahun 2014 ini dia sudah bisa menyewa dua kios. Dan tentunya buku – buku yang dijual semakin banyak dan beraneka ragam dari buku mahasiswa, umum, religi dan lainnya. Selain itu dia juga sudah bisa membeli motor satria. Sedangkan saya yang karyawan pabrik masih jalan kaki.
Dari ketiga kisah nyata diatas, lantas kita harus bertanya pada diri kita “kapan saya bisa jadi pengusaha?”semoga kita semua menjadi pengusaha muslim yang sukses di dunia dan akhirat. Pembaca mungkin bertanya”mas kapan jadi pengusaha?”wahh ini PR saya hehee... tapi saya sudah mulai merancang dan menyunsun konsepnya. Doakan semoga bisa jadi pengusaha. Dan teman – teman yang membaca ini juga jadi pengusaha. Aamiin.

Kisah diatas sekaligus bukti dari ucapan kanjeng nabi Muhammad SAW karena nabi juga mencontohkan kita sebagai seorang pedagang. Dan kita bisa lihat sahabat – sahabat nabi mayoritas mereka adalah pedagang dan pengusaha. Semoga bermanfaat.

Jumat, 16 Mei 2014

DEJAVU

Pandanglah orang lain pada sisi baiknya, dan pandanglah dirimu dari sisi buruknya

16 mei 2014
“jalannya masih jauh ya mas?”tanya naim pada kakaknya saat melakukan perjalanan camping ke bukit diutara desanya.
“masih, kalau sudah lelah kita istirahat sebentar. Dibawah pohon itu”tunjuk rangga sambil berjalan menghampiri pohon yang besar dan rimbun.
“oke kita istrihat disini”lanjutnya
Angin berhembus sejuk. Lebih dingin.
Sesekali daun – daun berguguran tertiup angin. Jatuh terjerembak disekitar tempat mereka berteduh. Terdengar kicauan burung – burung yang sedang bernyanyi dengan riangnya. Awan mulai bergerak kearah barat dan menyatu menjadi awan hitam.
“sepertinya hari ini akan turun hujan”kata riska mulai percakapan
“sebaiknya kita lanjutkan perjalanan dan mencari tempat berteduh dipemukiman warga”usul randi
“oke aku setuju”jawab naim sambil berdiri “ ayo kita lanjutkan perjalanan ini”lanjutnya
“saya sih yes, bagaimana dengan rangga?”sambung ramli sambil menirukan gayanya juri indonesia idol.
“sebaiknya kita pulang saja ya mas”pinta naim merasa ketakutan.
“perjalanan kita baru setengahnya, jika kalian merasa tak kuat sebaiknya kita kembali saja. Jika kalian masih sanggup mari kita lanjutkan camping kita ini. Bagaimana naim masih mau lanjut?”tengok rangga kearah naim.
“iya mas”jawabnya lirih
Mereka berlima melanjutkan perjalanannya. Sesekali mereka bercanda dan saling menggoda. Angin dingin bersama butiran air mengejar perjalanan mereka. Pohon – pohon disekelilng mereka mulai menari dengan semarak tertiup angin.
Rangga berjalan didepan, disusul naim dan riska dibelakangnya kemudian ramli dan randi berjalan paling belakang.  Mereka berlima ingin camping di bukit yang terletak di utara desanya. Desa sukamanah. Jarak bukit dan desa sekitar dua puluh kilo meter. Bukit wuser begitu kiranya orang – orang desa itu menyebutnya.
“mas, kenapa gak mencari tempat camping yang lain saja?”tanya naim ke kakaknya. “mas sudah tahukan tentang serombongan anak muda dari desa seberang yang hilang ketika camping disana?”lanjutnya
Rangga hanya diam dan menoleh kearah adiknya yang merasa ketakutan akan cerita yang menyebar di desanya sepuluh tahun yang lalu.
“iya mas sudah tahu semuanya, dan teman – teman juga sudah tahu. Karena cerita inilah yang membuat kami penasaran akan cerita itu selama ini”jawab rangga pada adiknya.
Setelah mendengar jawaban kakaknya naim kembali kebelakang bersama rizka. Di lihatnya semua teman – teman kakaknya itu enjoy dan menikmati perjalanan.
“yeeaahhh sebentar lagi kita sampai”teriak ramli dari belakang kegirangan
“gak sabar ingin mandi di air terjunnya”lanjut rizka
Di bukit wuser konon ada air terjun dan panorama yang sangat indah disekitar sungai dan dibawah air terjun. Angin bertiup lagi. Lebih dingin kini. Rintik – rintik air hujan mulai turun.
“rangga, kita harus cepat mendirikan tenda”kata randi tergesa. Rangga menadahkan wajahnya ke langit, dilihatnya awan itu bergerak. “tidak perlu”jawab rangga singkat. Dilihatnya kembali langit dan awan itu “ hujan ini cuma lewat sebentar”lanjutnya
Benar prediksi rangga, rintik air hujan itu lewat begitu saja. Dan angin kembali bertiup. Lebih sejuk terasa. “aneh “batin rangga. “seharusnya bulan ini tak turun hujan, karena ini musim kemarau”pikirnya lagi
Akhirnya mereka tiba ditempat yang di tuju. Bukit wuser. Rangga kemudian mencari tempat yang cukup untuk mendirikan dua buah tenda. Dilihatnya disebelah kanan sungai tempat yang lapang.
“sepertinya tempat itu cocok untuk mendirikan tenda kita”kata rangga sambil menunjuk kearah tempat lapang di sebelah kanan sungai.
“iya, bagus tuh. Cocok kita bisa melihat pemandangan dari arah sana”sambung rizka
“wahhh,,, ternyata bagus juga panorama tempat ini”kata setelah lama terdiam sejak dari perjalanan tadi.
“oke,,, kita bagi tugas. Karena hari mulai sore, aku dan ramli yang mendirikan tenda. Randi, naim dan riska cepat cari kayu bakar sebanyak banyaknya untuk nanti malam”perintah rangga pada teman – temannya.
Menjelang malam tenda sudah terpasang. Randi, naim dan rizka juga sudah selesai mengumpulkan kayu bakar. Tenda berdiri kokoh disebelah kanan sungai, dibelakang tenda ada lima pohon beringin yang masih kecil berukuran satu lengan batangnya. Gemuruh air terjun terdengar jelas.
“mas, aku mau kesungai dulu ya”ijin naim pada kakaknya yang sedang asik bermain gitar bersama teman – temannya
“jangan lama – lama, segera kembali”jawab rangga memberi ijin
Angin petang mendamaikan suasana. Sesekali terdengar nyanyian dari rangga dan kawan – kawannya. Dan kadang nyanyian dedauanan yang tertiup angin dan suara hewan malam yang mulai bersahutan.
“mas, cepat ke sini”teriak naim dari pinggir sungai
Seketika rangga dan teman – temannya berhenti bernyanyi. Mereka bangkit dan bergegas menghampiri naim.
“ada apa naim?”tanya rangga
“mas, aku menemukan surat dalam botol yang menyangkut diakar pohon itu”jelas naim pada kakaknya sambil menunjuk kearah pohon mahoni yang akarnya menjorok ke sungai
“surat dalam botol?”tanya rizka ingin tahu
“berarti pernah ada orang yang  ke sini, cepat baca rangga”perintah ramli
Naim menyodorkan botol berisi surat itu kepada rangga. Rangga pun menerima kemudian membuka tutup botol itu. Tiba – tiba rizka menyambar surat itu. “sini biar aku yang baca”katanya
“ada lima lembar suratnya”lanjut rizka
“cepetan dibaca”ucap ramli penasaran
Randi yang sejak tadi diam pun ikutan unjuk bicara “sudah jangan berisik, biarkan rizka membaca dan kita mendengarkannya”

“16 mei 2004
Kami adalah lima sahabat yang setiap hari bersama. Pada suatu saat kami memutuskan untuk melakukan perjalanan sebagai tanda kebersamaan kami. Kami memilih sebuah bukit yang terletah di desa seberang. Aku adalah rizal, teman – temanku bernama reza, renaldo, rika dan nurul. Kami bisa dibilang teman yang sehidup semati.”

“disurat yan pertama Cuma perkenalan”kata rizka. “oke aku lanjutkan dilembaran ke dua”lanjutnya

“16 mei 2004
Kami sangat senang saat diperjalanan, karena ini perjalanan kami yang pertama sebagai tanda persahabatan kami. Sebelum kita sampai di bukit itu, tiba – tiba hujan gerimis padahal kami mengira tak kan ada hujan karena saat itu musim kemarau. Dan tiba lah kami disebuah bukit yang indah dan mempesona pemandangannya. Reza dan aku mendirikan sebuah tenda di sisi kanan sungai, kami melihat lima buah pohon mahoni dibelakang kami. Air terjun sangat gemuruh dan terdengar suara hewan kecil disekelilling kami. Sungguh suasana yang mendamaikan hati”

“nahh kita lanjutkan di lembar yang ke tiga”ucap rizka sambil membuka lembaran surat itu.

“16 mei 2004
Hari mulai malam. Waktu itu sekitar jam tujuh malam. Api unggun sudah kami nyalakan. Tiba – tiba kami mendengar dentuman yang keras dari arah air terjun. Kami serentak kaget. Kami berhamburan keluar dari tenda. Kecuali aku, karena aku seorang penakut. Aku Cuma bisa melihat dari dalam tenda. Reza, renaldo, rika dan nurul menuju ke arah terjun itu. Aku hanya mengawasi mereka dari kejauhan.”

“mas, isi suratnya lama – lama menyeramkan”kata naim mulai merasa ketakutan
“tenang, tak apa – apa. Ada kami disini”jawab rangga menenangkan adiknya
“lanjutkan rizka”sahut ramli dari belakang

“16 mei 2004
Angin bertiup kencang. Keadaan menjadi gelap gulita dan berkabut. Aku sudah tak bisa melihat teman – temanku. Tiba – tiba aku mendengar jeritan mereka. Aku lari ketakutan bersembunyi di dalam tenda. Aku menangis. Tapi teman – temanku tak kunjung kembali. Aku mencoba memberanikan diri untuk keluar dari tenda. Aku dikejutkan dengan bayangan hitam yang merangkulku.”

Naim mulai ketakutan mendengar cerita itu. “mas....”bisiknya lirih sambil menarik ujung baju kakaknya.
“sudah tenang... mari kita dengarkan lembaran yang terakhir”kata randi. Rizka pun melanjutkan membaca.

“16 mei 2004
10 tahun akan datang dari peristiwa ini. Ditempat, hari, tanggal dan jam yang sama. Ada sekelompok pemuda yang datang kemari. Mereka berlima adalah sahabat. Dan nama mereka semua berawalan yang sama dengan nama kami. Kami kesepian di sini. Kami butuh teman. Tolong kami.”

Tiba – tiba naim sangat ketakutan. Rangga mulai memandingkan tempat disurat itu dengan tmpatnya yang sekarang.
“ahh ini pasti ada orang iseng”kata ramli tak percaya
“ran,,,sekarang jam berapa?”tanya rangga pada randi.
“jam tujuh kurang lima”jawab randi cepat
“dengarkan aku, kita harus segera bergegas meninggalkan tempat ini”perintah rangga mulai kawatir.
“tapi...”sahut randi
“tadi sebelum kita sampai disini, hujan pun turun. Aku juga merasa aneh karena ini musim kemarau. Sekarang tanggal berapa ram?”jelas rangga
“tanggal 16 mei 2014”jawab ramli
“ini tepat sepuluh tahun dari kejadian itu. Ayo segera berkemas”perintah rangga
Mereka segera berkemas untuk meninggalkan tempat itu. “ayo lebih cepat lagi”teriak randi. “ waktu kita dua menit lagi”lanjutnya
Tiba – tiba angin sangat kencang bertiup kearah mereka. Gemuruh dari air terjun sudah terdengar jelas. Keadaan menjadi gelap. “masssssssssssss......... “teriak naim ketakutan
“kamu sudah bangun naim?”kata ibunya
“aku dimana bu?”tanyanya bingung
“makanya kalau habis asar jangan tidur. Mimpi apa kog sampai teriak – teriak?”tanya ibunya
Naim hanya senyum – senyum. “mimpinya seru bu”jawabnya
“ya sudah sana mandi terus makan”perintah ibunya

“yosh mami”jawab naim sambil berlari ke kamar mandi.

Rabu, 14 Mei 2014

IBU

Siapa pun diri Anda, apapun profesi Anda, jangan pernah berhenti menginspirasi sesama.

Seorang ibu, setiap pagi setelah subuh bahkan sebelum subuh pergi ke pasar. Sang anak dibangunkan setiap pagi untuk sholat dan meneruskan sang ibu memasak. Baru setelah sang anak sholat, ibu itu pergi ke pasar. Hal seperti itu dilakukannya dari anaknya yang pertama sampai anaknya yang ke empat.
“nak bangun... “teriak ibunya. Tapi sang anak masih tertidur
“nak bangun,,jangan lupa ngasih kayu lagi di pawon, biar nasinya matang, itu sakumu dan adekkmu diatas tivi. Ibu mau berangkat kepasar”lanjut sang ibu
“nak bangun..”teriak sang ibu mengulangi dengan nada lebih keras. Sang anak bangun lalu sholat. Setelah sholat di lihatnya sang ibu sudah berangkat ke pasar. Di lihatnya diatas tivi ada uang dua ribu lima ratus. Seribu untuk adekknya dan seribu lima ratus untuknya.
Kebiasaan seperti itu terjadi sampai bertahun – tahun. Sampai saat sang anak yang ke empat itu lulus SMP. Sang anak Cuma bisa menurut karena tahu betul keadaan ibunya.
Saat penerimaan rapot atau rapat – rapat sekolah sang ibu tak bisa hadir karena di pasar. Bahkan waktu menerima hasil kelulusan pun sang ibu tak bisa hadir.
Sang anak memperhatikan sang ibu. Kenapa ibunya tak sama seperti ibu – ibu yang lainnya. Berangkat pagi, pulang siang dengan rasa capek yang amat sekali. Setelah istirahat sebentar sang ibu mencari rumput dan berpesan pada anaknya.
“jangan lupa ngasih makan sapi dan kambing, kasih minum juga, kalau garamnya habis ngutang dulu di mbok de”kata sang ibu sambil pergi
Dari tahun ketahun sang anak Cuma memperhatikan ibunya. Dan menuruti ibunya. Meski kadang – kadang lupa akan pesan ibunya tadi. Tak jarang sang ibu juga marah – marah. Sang anak ketakutan. Dan berfikir mungkin ibu sedang lelah.
Pada saat menjelang tahun ajaran baru sang anak ingin melanjutkan sekolah. Ibunya mengantarkannya ke sebuah pesantren, di antarnya anak itu di sebuah pesantren yang bagus. Dan mahal tentunya.
Saat liburan sekolah sang anak pergi ke pasar dan dilihatnya sang ibu sedang menggendong ember tempat tahu, diikuti sang ibu itu oleh anaknya dari belakang dari kejauhan. Setelah itu dilihatnya sang ibu menggendong satu karung kelapa, kemudian beras dan barang dagangan lainnya.
“jadi selama ini, ibuku pergi kepasar bukan untuk jualan. Tapi ibuku seorang kuli pasar”batin sang anak sambil meneteskan air mata. Dibayangkannya wajah sang ibu saat sebelum berangkat kepasar dan saat pulang dari pasar. Sedangkan sang anak disekolahkan ditempat yang bagus, bertingkat, mewah tanpa ia sadari kerja sang ibu sangat berat. Tak seperti yang dia kira ibunya ke untuk berjualan”lalu apa arti ibu setiap pulang bawa jajan,buah buahan”pikir sang anak “apa ibuku biar aku mengira beliau berjualan?”sang anak tambah hanyut.
Sang anak sesenggukan melihat ibunya dari jauh. Ingin rasanya lari memeluknya dan simpuh dikakinya.
Tibanya dirumah sang anak meminta pindah dari pesantren yang bagus itu. Sang anak tak sanggup melihat ibunya bekerja terlalu keras.” Ibu masih kuat nak nyari biaya buat kamu, yang penting kamu mau ngaji. Itu dah buat ibu senang”sang anak menangis memeluk ibunya
“gak apa apa bu, aku akan ngaji, tapi bukan ditempat yang mahal. Aku akan melanjutkan dipesantren yang tidak mahal tapi yang penting aku bisa meneruskan mengaji”kata sang anak disela tangisnya
Akhirnya sang ibu menyetujuinya. Sang anak pun pindah pesantren

Sang anak itu adalah aku, dan sang ibu itu adalah ibuku

Ibu aku sayang kamu. Salam kangen dan setetes air mata untukmu.

NAMANYA NAIM

Namanya naim, ku kenal dia sejak saat aku menggembala kambing sepuluh tahun yang lalu. Ya benar sekitar sepuluh tahun yang lalu. Saat itu usiaku masih empat belas tahun. Aku masih duduk di kelas dua SMP. Dan usianya masih dua belas tahunan.
Saat itu dia berjalan bersama kakak kandungnya  yang juga kakak kelasku. Saat aku menyapa kakaknya dia tersenyum padaku.” Dan senyumnya begitu membekas di ingatanku. Jembatan itu sebagai saksi mati pertemuanku dengannya. Angin sore itu pun mengolok – olokku. Dan bayangan naim terekam dalam memoriku. Kambing – kambing gembalaanku pun tersenyum manis menatapku.
“naim ya,...”pikiranku mulai merekam nama dan raut wajahnya.
Setahun setelah pertemuan pertamaku dengan naim, kami dipertemukan di sekolah tempat kakaknya dan aku belajar. Waktu itu aku sebagai ketua OSIS dan diberi kesempatan mengajar MOS. Aku masuk di kelas tujuh A, dan aku tertegun melihat naim duduk dikelas itu. Masih sama, senyumnya masih seperti pertama aku bertemu. Ya setahun yang lalu.
“naim???”batinku
Dia orang yang ku kenal pertama dikelas itu. Entah apa yang membuatku ingat pada naim. Mungkin sejak pertama aku sudah menaruh hati padanya.
Hari – hari berlalu di sekolah itu, aku merasa semakin dekat dengannya. Ditambah dia juga masuk di OSIS. Dan tentu aku semakin mengenalnya. Naim yang manis, naim yang anggun. Yang selalu membuatku tak biasa saat di dekatnya. Merasa canggung mau menyapa. Perasaan apa ini.
Dulu belum ada handphone seperti saat ini. Komunikasi dengan naim pun kalau masuk sekolah saat jam istirahat dan saat dikantin sekolah. Lama – lama aku merasa kehabisan kata saat bersamanya, seolah lidahku kaku. Tak bisa bicara.
Aku sudah mendekati kelulusanku. Dan aku ingin naim tahu tentan perasaanku padanya. Lalu ku putuskan untuk menulis surat padanya.
untuk naim...
Aku adalah sebagian orang yang mencoba menyayangimu. Dan mencoba menahan rasaku. Dan akhirnya pun aku tak bisa menahannya. Ini adalah perasaan kagum, atau perasaan anak kecil yang memulai remajanya. Entah apa itu, aku cuma ingin kau tahu jika selama ini aku menaruh hati padamu”
Dariku...
Naim, ku kirimkan surat itu bersama perasaan ini. Apa kau meneerimanya dengan lengkap?
Begitulah kiranya. Cerita ini ku persingkat.
Setelah aku lulus dari SMP. Aku sudah tidak tahu bagaimana keadaanmu, kabarmu bahkan aku juga tak tahu adakah orang lain dihatimu. Sedang suratku tak kunjung kau balas, mungkin kau benar karena aku tak meminta balasan. Aku hanya ingin kau tahu.
“naim...”
Naim, aku sekarang berada dijauh. Aku dipenjara suci. Aku tak bisa pulang jika aku tak diijinkan pulang. Semoga kau pun juga baik – baik dan masih tetap melanjutkan studimu.
Ku tulis setiap perjalananku dan perasaanku. Meski aku tahu mungkin kau tak mengharapkanku. Aku masih ingat, saat itu ada lomba menulis cerpen di tempatku belajar. Lomba menulis cerpen. Apa kau tahu naim?aku menulis sebuah cerpen tentang perasaanku padamu. Meski aku tambahi bumbu – bumbu agar cerpen itu lebih menarik. Tapi kau tetap pemeran utama dalam cerpen itu, kau tetap inspirasi dari cerpen itu.
“naim”
Ku beri judul cerpen itu. Sebuah nama yang aku kenal dan membuatku ada rasa padamu. Aku pun tak menyangka jika cerpen itu menjadi cerpen terbaik. Aku mendapat sebuah tropi dan piagam. Naim aku merasa kau juga hadir saat aku dipanggil keatas panggung menerima tropi itu. Kau seakan melihatku, dan tersenyum seperti saat aku pertama bertemu denganmu.
Apa kau tahu naim?rasanya aku ingin memberi tahumu tentang hal ini. Tapi aku tak tahu bagaimana caranya.
Suatu pagi diliburan idul adha. Aku dapat ijin pulang dari penjara suci. Aku ingin segera menemuimu dan memberi tahu akan cerpen itu. Saat aku melintas didepan sekolah dimana kita sekolah dulu. Aku melihatmu bersama orang yang aku kenal sebagai teman sekelasmu. Dan aku pun mencari tahu ternyata kau menaruh hati pada temanmu itu.
“naim??”
“benarkah itu naim?”batinku mulai bergejolak
Maka ku urungkan niatku untuk menemuimu. Ku coba menghapus namamu.
Tiga tahun sudah aku tak mendengar kabar darimu, tiga tahun sudah aku tak bertemu denganmu. Tapi perasaanku padamu juga masih sama.
“naim?”sapaku saat aku bertemu naim di pasar
“kamu?”tanyanya
“iya, kau masih ingatkan?”balasku bertanya
“wah sudah lama ya gak bertemu, pasti kau sudah lulus?”
“dan begitu juga kamukan?”
“he’em...”jawabnya sambil tersenyum.
Saat pertemuan itu aku mulai bisa mengusai ketidak seimbanganku. Aku sekarang bisa lebih banyak berbicara. Saat itu usiaku 22 tahun. Naim yang ku kenal dulu bukan naim yang kukenal sekarang, lebih anggun dengan jilbabnya, meski senyumnya tak pernah berubah.
“kalau kamu tak sibuk, aku ingin mengajakmu ngobrol banyak sambil makan, bagaimana?”ajakku
“ohh.. iya, boleh”jawabnya tak sedingin dulu.
Kami pun ke warung soto dekat pasar itu. Bisa dibilang ini pertama aku dengannya bisa sedekat ini. Dan ini kali pertama aku mengajaknya makan.
“teruskan....”pintanya
“apa kau tau naim?”tanyaku, dan dia berusaha mendengarkanku, dan menatapku seolah memintaku menceritakan semua apa yang ingin aku katakan
“naim... aku tak pernah minta balasan darimu, dan aku tak kan menyalahkanmu. Terima kasih, selama ini kau menjadi inspirasiku. Aku membuat cerpen tentang perasaanku padamu, dan hasilnya aku jadi yang terbaik, kapan – kapan datanglah kerumahku. Sejak itu aku sering menulis cerita, tapi aku bingun tak ada yang membacanya. Maka aku mencari orang untuk membaca ceritaku. Jika kau ingin membaca ceritaku, kutitipkan cerita itu pada temanmu..kadang aku ingin mengejarmu, kadang aku juga merasa lelah mengejarmu. Maka kuputuskan untuk menunggumu”
“sudah lama ya..”potongnya
“ya sudah lama, aku juga menunggumu dan berusaha memperbaiki diriku”lanjutnya.
“lalu..?”
“tapi aku tak ada rasa padamu, pernah ku coba, tapi aku tetap tak bisa”
“begitu ya”aku pun tertunduk, dan aku kehilangan keseimbanganku
Sejak pertemuan terakhir itu aku benar – benar ingin melupakannya. Sudah tak ada lagi kertas yang terluka karena keegoisan dari perasaan seseorang. Tak ada lagi saksi – saksi bisu yang untuk dijadikan kenangan. Tak ada lagi senyum kambing – kambing yang ku gembalakan.
Aku telah gagal.
Sore itu aku bertemu dengan teman lama. Hendak aku ceritakan perasaan ini pada seseorang. Biar ada tempat berbagi. Ada yang mengingatkanku jika aku telah salah dalam mengelola perasaanku.
“kamu ahmad kan?”tanyaku kala itu
Ia hanya tersenyum menatapku. Pandangannya lebih sejuk dan mendamaikan hati yang melihatnya. Jauh berbeda dengan ahmad yang aku kenal dulu. Dekil, nakal, dan suka cengengesan.
“sudah lama gak bertemu ya”lanjutku
“iya, sudah hampir enam tahun dari saat terakhir kita bertemu, kau juga tampak dewasa”katanya halus. Dan dihiasai senyumannya yang dulu tak pernah aku lihat.
Mungkin enam tahun itu dia gunakan waktunya untuk berbenah diri. Dulu kami sekelas waktu di madrasah aliyah, bahkan sebangku. Setelah lulus aku tak melihatnya. Bahkan lebaran pun cuma kudengar kabarnya saja. Saat aku berkunjung ke rumahnya dia sudah pergi. Dan keluarganya hanya menjawab dia kerja sambil sekolah saat kutanya mengapa cepat sekali balik.
“antum sudah menikah?”tanyanya disela – sela obrolan kami
“belum mad”jawabku pelan
“wahhh aku dengar teman – teman yang lain sudah menikah, lalu kapan kamu menyusul”
“jangan lama – lama lho”lanjutnya sambil tersenyum manis kearahku.
“kamu pasti bahagia sekarang, istri dan anakmu pasti bangga padamu”aku ingin bicara lagi tapi hanya itu saja yang bisa kuucapkan, ku batalkan niatku untuk cerita tentang naim padanya. Dia menungguku bicara lagi, tapi hanya itu yang ku katakan
Dia pun hanya menjawabnya dengan senyuman. Dia pergi sambil melambaikan tangannya kearahku. “ingat, lekas menyusul...”
Sebulan setelah pertemuanku dengan ahmad aku mulai sadar kekuranganku. Kita dikasih waktu yang sama dalam sehari semalam dua puluh empat jam. Lantas mengapa aku merasa tertinggal dari teman – temanku. Aku masih ingat aku menjadi tempat bertanya bagi teman – teman jika mengalami kesullitan. Aku terlena, aku terlalu sibuk memikirkan hal yang tak perlu.
Sore itu aku pergi ke sungai disebelah barat rumahku. Aku merenung diatas batu besar. Terdengar gemercik air menertawakanku. Kutatap langit tapi menggambarkan suram hatiku. Air mengalir dengan riangnya. Angin sore ditambah bau air menerpaku.
“aku telah gagal”batinku
“aku telah gagal menjadi kakak yang baik untuk adikku, aku gagal menjadi guru yang terbaik untuk murid – muridku. Aku gagal menjadi anak yang berbakti. Dan aku telah gagal mendapatkan cintaku. Hidupku penuh kegagalan”perasaanku semakin mengharu biru.

Senja dibarat merah keemasan. Angin menerpa berbau malam. Lebih tajam kini. Sepi dan hening aku tertelan gelap malam.

karya : mas mis (edisi latihan)
cerita ini hanya fiktif belaka, jika terdapat kesamaan nama dan cerita mohon dimaafkan 

Minggu, 11 Mei 2014

APA YANG MESTI KUKATAKAN PADANYA?


Aku tak tahu, bagaimana harus menuturkan kisah ini pada Anda. Kisah yang pernah ku alami sendiribebrapa tahun yang lalu sehingga mengubah total perjalanan hidupku. Sebenarnya aku tak ingin menceritakannya, tapi demi tanggung jawab dihadapan Allah, demi peringatan bagi para pemuda yang mendurhakai Allahdan demi pelajaran bagi gadis yang mengejar bayangan semu, yang disebut cinta, maka ku ungkapkan kisah ini.
Ketika itu, kami tiga sekawan. Yang mengumpulkan kami adalah kesamaan nafsu dan kesia – siaan. Oh tidak, kami berempat, satunya lagi adalah setan. Kami pergi berburu gadis – gadis. Mereka kami rayu dengan kata kata manis, hingga mereka takluk, lalu kami bawa ke sebuah taman yang jauh dan terpencil. Di sana, kami berubah menjadi serigala – serigala yang tak menaruh belas kasihan mendengar rintihan mohonan mereka, hati dan perasaan kami sudah mati.
Begitulah hari – hari kami di taman, di tenda, atau dalam mobil yang diparkir di pinggir pantai. Sampai suatu hari yang tak mungkin pernah aku lupakan. Seperti biasa kami pergi ke taman. Seperti biasa pula, masing – masing kami menyantap satu mangsa gadis, ditemani minuman laknat. Satu hal yang kami lupa pada saat itu adalah makanan. Segera salah seorang dari kami bergegas membeli makanan dengan mengendarai mobilnya. Saat ia berangkat, jam menunjukkan pukul jam enam sore. Bebrapa jam berlalu, tapi teman kami itu belum kembali. Pukul sepuluh malam, hatiku mulai tak enak dan gusar. Maka aku segera membawa mobil untuk mencarinya. Di tengah perjalanan, di kejauhan aku melihat jilatan api. Aku mencoba mendekat.
Aku hampir tak percaya dengan yang kulihat. Ternyata api itu bersumber dari mobil temanku yang terbalik dan terbakar. Aku panik seperti orang gila. Aku segera mengeluarkan tubuh temanku dari mobilnya yang masih menyala. Aku ngeri tatkala melihat separuh tubuhnya masak terpanggang api. Ku bopong tubuhnya lalu kuletakkan ditanah.
Sejenak kemudian, dia berusaha membuka kedua matanya, berbisik lirih “ Api... Apiii....”
Aku memutuskan untuk segera membawanya ke rumah sakit dengan mobilku. Tetapi dengan suara campur tangis, ia mencegah :”tak ada gunanya...aku takkan sampai..”
Air mataku tumpah, aku harus menyaksikan temanku meninggal dihadapanku. Di tengah kepanikanku, tiba tiba ia berteriak lemah:”Apa yang mesti kukatakan padaNya?apa yang mesti kukatakan padaNya?”
Aku memandangnya penuh keheranan. :” Siapa?”tanyaku. dengan suara yang seakan berasal dari sumur yang amat dalam, dia menjawab “Allah”
Aku merinding ketakutan. Tubuh dan perasaanku terguncang keras. Tiba – tiba temanku itu menjerit, gemanya menyelusup ke setiap relung malam yang gelap gulita, lau kudengar tarikan nafasnya yang terakhir. Innaalillahi wainna ilaihi roji’un. Setelah itu hari hari berlalu seperti sediakala, tetapi bayangan temanku yang meninggal, jerit kesakitannya, api yang membakarnyadan lolongannya “Apa yang mesti kukatakan padaNya?” seakan terus membuntuti setiap gerak dan diamku.
Pada diriku aku bertanya:”Aku... apa yang harus aku katakan padaNya?”Air mataku menetes, lalu sebuah getaran aneh menjalari jiwaku. Saat puncak perenungan itulah, sayup sayup aku mendengar adzan subuh menggema. Aku merasa bahwa adzan itu hanya ditujukan padaku saja, mengajakku menyingkap fase kehidupanku yang kelam, mengajakku pada jalan cahaya dan hidayah. Aku segera bangkit, mandi dan wudhu, menyucikan tubuhku dari noda – noda kehinaan yang menenggelamkanku selam bertahun tahun.
Sejak saat itu aku tak pernah lagi meninggalkan sholat. Aku memuji Allah, yang tiada yang layak dipuji selain Dia. Aku telah menjadi manusia lain. Maha suci Allah yang mengubah berbagai keadaan. Dengan seizin Allah, aku telah menunaikan umrah. insyaAllah aku akan melaksanakan haji dalam waktu dekat, siapa yang tahu?umur ada ditangan Allah.

Diambil dari buku     : ukhti, apa yang menghalangimu untuk berjilbab?
Di kutip lagi di buku : jendela hati karya satria nova

Dan saya ketik kembali diblog saya... semoga bermanfaat. Hidayah bisa turun meski Cuma lewat cerita. Pada intinya perubahan itu sumbernya pada jiwa.

Senin, 05 Mei 2014

CATATAN SEORANG SANTRI

Santri berhamburan keluar dari madrasah diniyah. Sore itu senja mulai tampak dibarat tampak kuning keemasan. Angin membawa aroma sawah dari arah barat pesantren. Pesantren tampak sejuk dipandang berwarna hijau dan tak menampakkan keangkuhan. Sederhana dan nyaman. Masih terlihat hijau dan asri pohon pohon jati. Serta pohon kelapa yang tegap mengawasi santri dari arah depan dan belakang. Tampak seutas senyum dan gelak tawa santri di sore itu. Tapi, juga ada hati yang kangen memendam kerinduan pada orang tua dan keluarga. Karena demi tholabul 'ilmi dan bakti pada orang tua serta mengharap ridho Tuhan penguasaha ilmu yaitu Allah SWT rasa kangen itu pun menjadi sebuah nikmat.
"kang, tolong telfonkan ibuku untuk menjengukku"pinta seorang santri
"isbir ya akhi, bukan tidak boleh tapi dengan orang tuamu kesini rasa kangenmu lantas hilang yang ada antum akan selalu kangen pada beliau dan merasa berat untuk ditinggalkan" jawab musrif kamar tengah
"tapi kang..."
"sudah ya akhi, doakan saja beliau, sampaikan kangen antum melalui doa antum. Biarkan Alloh yang menyampaikannya pada ibumu"potong kang suranto musrif kamar tengah itu.
Angin sore itu pun berubah aromanya menjadi searoma sayur terong dan ikan asin. Para santri sudah berjajar antri makan di dapur pesantren. Seperti saat menanti antrian sembako dan tiket kereta api saat menjelang lebaran.
"huuuuuuuuuuuuu" terdengar suara para santri menegur temannya yang tidak mau antri
"afwan ya akhi "jawab ridho sambil cengengesan. dan berlalu diiringi sorakan dari teman temannya