Siapa pun diri Anda, apapun profesi Anda, jangan pernah
berhenti menginspirasi sesama.
Seorang ibu, setiap pagi setelah
subuh bahkan sebelum subuh pergi ke pasar. Sang anak dibangunkan setiap pagi
untuk sholat dan meneruskan sang ibu memasak. Baru setelah sang anak sholat,
ibu itu pergi ke pasar. Hal seperti itu dilakukannya dari anaknya yang pertama
sampai anaknya yang ke empat.
“nak bangun... “teriak ibunya. Tapi
sang anak masih tertidur
“nak bangun,,jangan lupa ngasih
kayu lagi di pawon, biar nasinya matang, itu sakumu dan adekkmu diatas tivi. Ibu
mau berangkat kepasar”lanjut sang ibu
“nak bangun..”teriak sang ibu
mengulangi dengan nada lebih keras. Sang anak bangun lalu sholat. Setelah sholat
di lihatnya sang ibu sudah berangkat ke pasar. Di lihatnya diatas tivi ada uang
dua ribu lima ratus. Seribu untuk adekknya dan seribu lima ratus untuknya.
Kebiasaan seperti itu terjadi
sampai bertahun – tahun. Sampai saat sang anak yang ke empat itu lulus SMP. Sang
anak Cuma bisa menurut karena tahu betul keadaan ibunya.
Saat penerimaan rapot atau rapat –
rapat sekolah sang ibu tak bisa hadir karena di pasar. Bahkan waktu menerima
hasil kelulusan pun sang ibu tak bisa hadir.
Sang anak memperhatikan sang ibu.
Kenapa ibunya tak sama seperti ibu – ibu yang lainnya. Berangkat pagi, pulang
siang dengan rasa capek yang amat sekali. Setelah istirahat sebentar sang ibu
mencari rumput dan berpesan pada anaknya.
“jangan lupa ngasih makan sapi
dan kambing, kasih minum juga, kalau garamnya habis ngutang dulu di mbok de”kata
sang ibu sambil pergi
Dari tahun ketahun sang anak Cuma
memperhatikan ibunya. Dan menuruti ibunya. Meski kadang – kadang lupa akan
pesan ibunya tadi. Tak jarang sang ibu juga marah – marah. Sang anak ketakutan.
Dan berfikir mungkin ibu sedang lelah.
Pada saat menjelang tahun ajaran
baru sang anak ingin melanjutkan sekolah. Ibunya mengantarkannya ke sebuah
pesantren, di antarnya anak itu di sebuah pesantren yang bagus. Dan mahal
tentunya.
Saat liburan sekolah sang anak
pergi ke pasar dan dilihatnya sang ibu sedang menggendong ember tempat tahu,
diikuti sang ibu itu oleh anaknya dari belakang dari kejauhan. Setelah itu
dilihatnya sang ibu menggendong satu karung kelapa, kemudian beras dan barang
dagangan lainnya.
“jadi selama ini, ibuku pergi
kepasar bukan untuk jualan. Tapi ibuku seorang kuli pasar”batin sang anak
sambil meneteskan air mata. Dibayangkannya wajah sang ibu saat sebelum berangkat kepasar
dan saat pulang dari pasar. Sedangkan sang anak disekolahkan ditempat yang
bagus, bertingkat, mewah tanpa ia sadari kerja sang ibu sangat berat. Tak seperti
yang dia kira ibunya ke untuk berjualan”lalu apa arti ibu setiap pulang bawa
jajan,buah buahan”pikir sang anak “apa ibuku biar aku mengira beliau berjualan?”sang
anak tambah hanyut.
Sang anak sesenggukan melihat
ibunya dari jauh. Ingin rasanya lari memeluknya dan simpuh dikakinya.
Tibanya dirumah sang anak meminta
pindah dari pesantren yang bagus itu. Sang anak tak sanggup melihat ibunya
bekerja terlalu keras.” Ibu masih kuat nak nyari biaya buat kamu, yang penting
kamu mau ngaji. Itu dah buat ibu senang”sang anak menangis memeluk ibunya
“gak apa apa bu, aku akan ngaji,
tapi bukan ditempat yang mahal. Aku akan melanjutkan dipesantren yang tidak mahal
tapi yang penting aku bisa meneruskan mengaji”kata sang anak disela tangisnya
Akhirnya sang ibu menyetujuinya. Sang
anak pun pindah pesantren
Sang anak itu adalah aku, dan
sang ibu itu adalah ibuku
Ibu aku sayang kamu. Salam kangen
dan setetes air mata untukmu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar